Wednesday, July 29, 2009

Perjuangan Muallaf 2

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh



Pak Muji...., saya seorang mualaf, untuk memperteguh hati saya kepada Agama Islam ini, saya ingin mendengar cerita pak Muji asal mula kenal dan masuk Agama Islam, sekaligus sebagai obat penderitaan saya karena, dengan pindah Agama Islam, saat ini saya telah dikucilkan dan dimusuhi oleh saudara saudara saya.


Itu salah satu pesan yang saya terima melalui YM saya (mkaruk).


Sesuai Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa (4) ayat 1. yang artinya. "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."


Al-Qur’an Surat Al-Hujuraat (49) Ayat 13 yang artinya.


"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."



Wahai saudaraku, salam kenal dan terimakasih, sebenarnya selama kita mau belajar dan belajar, serta memperhatikan dan menghayati, setiap apa yang kita lihat, kita rasakan, dan kita alami, itu semua bentuk kasih sayang Allah , Tuhan Yang Maha Esa, kepada seluruh makhluk ciptaan Nya, sesuai Firman Alloh dalam QS.Al-Imran (3) : 191. yang artinya "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."


Secara garis besar Subhannallah, kita dilahirkan dibumi ini sudah dalam keadaan Islam, sesuai Firman Alloh SWT dalam QS. Ar-Ruum (30) : 30. yang artinya "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,"


Saya sangat tersanjung, dan sangat berterimakasih atas pesan yang telah saudara kirimkan melalui YM (mkaruk) tersebut diatas, sebenarnya mungkin pengalaman saudara selama ini lebih menderita, dan lebih dahsyat penderitaan yang saudara alami bila dibandingkan dengan pengalaman yang saya alami, dan juga baik pengalaman dan penderitaan, yang kita alami selama ini, tidaklah sebanding bila dibandingkan penderitaan para saudara saudara kita terdahulu atau seluruh pejuang pejuang Islam, akan tetapi mereka tetap tegar dan tetap teguh bahkan semakin tebal keimanan mereka kepada Alloh SWT, karena keteguhan dan ketegaran iman mereka Alhamdulillah akhirnya Islam sampai juga kepada kita sekalian.


Dari Anas r.a. bekata, Rasulullah saw. bersabda, "Akan datang kepada umat ku suatu zaman di mana orang yang berpegang kepada agamanya laksana menggenggam bara api”. (Riwayat Tirmizi)

Dipegang terus pastilah panas, akan tetapi bila kita lepas, sudah lah pasti cahaya Islam tidak akan pernah sampai pada kita dan pasti tidaklah sampai juga kepada anak cucu kita sebagai generasi yang akan datang.


Maka dari itu mari kita laksanakan perintah Alloh dengan benar walau apapun yang akan terjadi pada diri kita, sesuai Firman Alloh dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa (4) Ayat 36, yang artinya. "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri".


Disamping itu kita tetap bekerja dan berusaha serta berjuang membela Agama yang diridhoi Alloh ini dengan segenap kemampuan dan kekuatan yang kita miliki, dan mari kita belajar dan menempatkan diri sebagai sososk muslim yang selalu mengedepankan firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah (9) ayat 105 yang artinya. "Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan- Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan"


Saya Mujiarto Karuk tidak lebih hanya sebagai hamba Alloh yang doif dan lemah karena, saya :



1. Sebatang kara dari usia 6 tahun dan untuk menamatkan sekolah SD sampai dengan SMP harus berjuang menjadi pembantu rumah tangga, dan bekerja dikalangan meja bilyard.



2. Setelah tamat SMP Negri Kurungan Nyawa Oku Sumatra Selatan , saya dengan sedikit tabungan hasil kerja dengan modal nekat masuk kota Jakarta yang sama sekali buta dan tidak tahu persis sudut Jakarta.



3. Dalam perjalanan ke Jakarta tepatnya di Bandar lampung saya dipertemukan oleh Alloh SWT kepada seorang pemuda makasar berhati mulia dan saya dibawa serta diajak yang belakangan saya baru tahu bahwa nama daerah pertama kali saya menginjakan kaki di kota Jakarta bernama Pasar Ikan, Jakarta Barat.



4. Selama saya tinggal didaerah saya tersebut, tempat saya menginap dan tempat saya bekerja sangat berdekatan dengan rumah ibadhah Non muslim dan saya sangat aktif dirumah ibadhah tersebut karena ketika itu saya sedikit menemukan kedamaian dari kejamnya pergaulan saya ketika itu.



5. Ternyata setelah saya berada di rumah teman saya yang baru menolong dan menuntun saya hingga saya sampai di pasar ikan , saya menemukan 2 prilaku yang saya anggap sangat bertentangan, ketika itu hati saya bergejolak kencang dan marah bercampur benci melihat prilaku orang orang disekeliling saya, bila malam mereka banyak yang masuk mushollah sementara disiang hari mereka melakukan persis ketika saya lakukan waktu saya masih bekerja di daerah saya dahulu, yakni berjudi, mencuri, nyopet, berkelahi dan berprilaku miring lainnya…



6. Suatu malam saya pertama kali kaki saya menginjakan dan masuk Mushollah tersebut, saya melakukan dan mengikuti serta minta diajarkan bagai mana cara berwudhu dan saya mengikuti yang belakangan saya ketahui Sholat…., saya menangis dan ketika itu saya betul betul menemukan kedamaian yang sangat luar biasa….yang tidak dapat saya ceritakan dalam kata kata.



7. Setelah sekian lama saya berada di rumah teman saya tersebut sambil bekerja di kapal angkutan barang, achirnya saya memberanikan diri izin dengan teman saya yang ketika itu sebagai ketua kelompok makasar untuk wilayah Jakarta Barat.



8. Saya berjalan tanpa tujuan arah pasti saya hanya mengikuti kata hati bahwa saya harus meninggalkan prilaku yang saya anggap sangat tidak mendidik tersebut, dan tidak tau persis arah dan tujuan, dan Alhamdulillah saya dituntun oleh Allah SWT menuju sebuah terminal belakangan saya tahu bernama terminal grogol.



9. Dari terminal gerogol saya melihat dan naik bus belakangan saya baru tahu bahwa bus PPD Kodok tersebut jurusan Grogol Pulogadung , sepanjang jalan saya melihat betapa indahnya kota Jakarta, tapi saya tidak merasakan terhibur karena saya tidak tahu persis hendak kemana.



10. Setelah saya tiba di terminal Pulogadung yang saya cari ketika itu hanya mushollah, saya hanya berfikir mungkin mushollahlah yang dapat memberikan kedamaian dan tempat saya numpang hidup.



11. Ternyata saya menemukan perbedaan yang sangat mengejutkan, ketika saya dipasar ikan walau prilaku mereka yang ada disekeliling saya ketika itu sangat tidak mendidik, mushollahnya tidak dikunci dan siapapun bisa masuk dan sujud, tapi justru diterminal pulogadung mushollah nya dikunci jadi saya tidak bisa masuk dan ikut nginap di mushollah tersebut , hanya duduk di terasnya saja.



12. Ditengah malam yang dingin dengan bekal seadanya, saya bertemu dengan seorang laki laki yang usianya sebaya dengan saya, ternyata beliau berprilaku sama dengan saya ketika saya masih di kampung halaman dulu.



13. Dan saya dipertemukan oleh teman saya yang baru tersebut dengan ketua kelompoknya yang ternyata juga satu wilayah asal kelahiran saya. dan ternyata jumlah kelompok yang baru saja menolong saya ini lebih besar dan wilayah operasinya juga hampir seluruh kota Jakarta, hanya pusat berkumpulnya di terminal Pulogadung dan Lapangan Banteng.



14. Hingga suatu hari saya dikejar kejar masa karena ketahuan melakukan perbuatan tercela tersebut dan saya berlari dan menyelamatkan diri serta minta perlindungan, dan berlindung di rumah salah satu warga yang terletak tidak jauh dari Pasar Pulo Gadung, saya sudah masuk dan memasuki serta mohon perlindungan pada keluarga tersebut baru belakangan saya tahu bahwa beliau adalah seorang Anggota Polri.



15. Ketika saya tahu bahwa saya masuk dan memasuki rumah salah satu Anggota Polri, saya betul betul mengalami guncangan jiwa dan ketakutan yang sangat luar biasa, ketika itu mengalahkan semua ketakutan yang pernah saya alami, mengalahkan takutnya berjalan dikegelapan malam daerah kelahiran saya yang belum ada listrik, kiri dan kanan jalan raya yang rusak dan becak manakala hujan masih sepi dan hutan masih lebat, mengalahkan ketakutan kelaparan karena tidak bergantung hidup dengan kedua orang tua sejak usia 6 tahun, mengalahkan rasa takut memburu babi hutan di hutan belantara Negri Batin Muara Dua Oku Sumsel, mengalahkan rasa takut harus berebutan buah durian masak yang jatuh dengan Macan atau penduduk setempat menamakan HALIMAWONG, karena rasa lapar, mengalahkan rasa takut menyeberangi dalam dan derasnya sungai komering di Muara Dua , Oku Sumsel, mengalahkan rasa takut menyelam dikedalaman laut di pelabuhan Panjang Tanjung Karang Lampung , memburu koin yang dilemparkan sebagian penumpang kapal, mengalahkan rasa takut berhadapan dengan kelompok lain yang di lanjutkan dengan perkelahian, bahkan sampai menghilangkan nyawa orang lain, dan masih banyak lagi pengalaman pahit yang tidak dapat saya lupakan.



16. Ternyata Anggota Polri yang bernama Letnan Dua Polisi Soetomo, seorang Anggota Polri yang berhati mulia, beliau menemui massa yang mengejar ngejar saya, dan berteriak teriak serta berkumpul dengan teriakan beragam suara, dengan bahasa lembut dan tegas beliau meminta agar massa bubar dan pulang ketempat asal masing masing, setelah massa bubar dan saya selamat dari amukan massa, saya ditanya dan semua saya jelaskan dengan jujur apa adanya.



17. Sebelum beliau berangkat dinas ke aceh beliau berpesan pada saya Muji , kamu sudah jadi anak Bapak , kamu lindungi dan kamu jaga anak anak Bapak semua itu saudaramu , dan kebetulan beliau memiliki 8 orang anak semua wanita kecuali yang no 2 dari bungsu , hanya laki laki satu satunya dan masih kecil kecil.



18. Dan achirnya pada tanggal 1 Nopember 1982 saya lulus Pendidikan Secata Pusdik Reserse Polri Mega Mendung Bogor Jawa Barat, dan di lantik menjadi Anggota Polri berpangkat Bhayangkara Dua, setelah selesai di lantik saya menangis, sedih dan sangat terharu ketika Ayah angkat saya Pak Soetomo memeluk dan mencium saya sambil berkata “MUJI BAPAK PERCAYA BAHWA KAMU KELAK AKAN MENGGANTIKAN BAPAK SEBAGAI ANGGOTA POLRI YANG BAIK ”



19. Setelah bekerja dan mengabdi di Kepolisian selama lebih kurang 27 tahun Subhannalloh hanya Allah SWT yang tahu, betapa sulitnya menjadi dan melaksanakan dan melakukan amanat ayah angkat saya tersebut diatas.



Wahai saudaraku yang dirahmati Alloh SWT, baru pada awal tahun 1986, saya mulai belajar membaca Al-Qur'an, yang sebelumnya saya hanya membaca tarjamahnya saja, menghayati dan membandingkan serta bertanya kepada teman teman Muslim lainnya, dan akhirnya saya mengundang dan mendatangi seorang Ustaz yang bernama Shobari Achmad dari Kebon Melati Tanah Abang Jakarta Pusat .


Dari beliaulah saya dipertemukan dengan seorang ustaz dan dibawa serta masuk pesantren Persis Jakarta timur dekat dengan tempat tinggal saya.


Wahai saudaraku tidak ada istilah terlambat, selama kita mau serta bertekad untuk mempelajari semua rahmat dan nikmat yang kita rasakan, kita hadapi, kita temukan dan kita jauhkan sipat merasa cukup dan merasa puas dengan ilmu yang kita dapat, Insya Alloh dan pasti kita akan merasakan dan mendapatkan rahmat serta petunjuk Alloh, bantuan dan pertolongan Alloh SWT.


Dan Semoga kita semua juga mendapat tuntunan menuju jalan yang diridhoi serta kita semua terlepas dari prilaku yang sesat dan menyesatkan bagi kita semua.


Dan semoga kita termasuk golongan yang pandai bersyukur dan mensyukuri segala nikmat yang kita terima, kita rasakan dan kita alami, sebagai bentuk kasih sayang Alloh pada kita makhluk ciptaan Nya dan kita semua dapat terlepas dari murka Alloh serta mendapat perlindungan, selamat dunia sampai akherat kelak, Aamiin Yarobbal Alamiin.



Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh


Salam Hormat







Mujiarto Karuk


Baca Selengkapnya!

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Assalamualaikum Wr Wb


Bismillahirrohmaani rrohiim




Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya.


Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.



Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar"

KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA



Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan.


Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan"




KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA



Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup.


Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek"



KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA



Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam.


Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah nak, aku tidak haus!"




KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT



Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan.


Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta"




KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA



Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya punya duit"




KEBOHONGA N IBU YANG KEENAM



Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa"




KEBOHONGA N IBU YANG KETUJUH



Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan.


Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan"




KEBOHONGA N IBU YANG KEDELAPAN



Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.



Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! " Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah


Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.


Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.


Dan Semoga dapat menjadikan nasehat dan bermanfaat untuk kita semua.


Baca Selengkapnya!

Bersyahadat Setelah 8 Tahun Baca Al-Quran

Anne Collins ingin berhubungan langsung dengan Allah yang dapat memberinya ampunan tanpa perantara. Itu setelah 8 tahun membaca Al-Quran



Hidayatullah. com--Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen yang taat. Saat itu, orang Amerika lebih religius dibandingkan masa sekarang--contohnya , sebagian besar keluarga pergi ke gereja setiap Minggu. Orang tua saya ikut dalam komunitas gereja. Kami sering mendatangkan pendeta ke rumah. Ibu saya mengajar di sekolah minggu, dan saya membantunya

Pastinya saya lebih relijius dibandingkan anak-anak lainnya, meskipun saya tidak merasa seperti itu dulu. Satu saat ketika ulang tahun, bibi saya memberi hadiah sebuah Bibel, dan untuk saudara perempuan saya ia memberi sebuah boneka. Lain waktu saya minta dibelikan buku doa kepada orang tua, dan saya membacanya setiap hari selama beberapa tahun.


Ketika saya SMP, saya mengikuti program belajar Bibel selama dua tahun. Ketika itu saya sudah mengkaji sebagian dari Bibel, meskipun demikian saya belum memahaminya dengan baik. Kemudian saya mendapat kesempatan mempelajarinya lebih dalam. Sayangnya, kami belajar banyak petikan di dalam Perjanjian Lama dan Baru yang tak dapat dipahami, bahkan terasa aneh.

Sebagai contoh, Bibel mengajarkan tentang adanya dosa awal, yang artinya semua manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa. Saya punya adik bayi, dan saya tahu ia tidak berdosa. Bibel mengandung banyak cerita aneh dan sangat meresahkan, misalnya cerita tentang nabi Ibrahim dan Daud. Saya tak dapat mengerti bagaimana mungkin para nabi bisa mempunyai kelakuan seperti yang diceritakan dalam Bibel. Ada banyak hal lain dalam Bibel yang membingungkan saya, tapi saya tidak mempertanyakannya. Saya terlalu takut untuk bertanya saya ingin dikenal sebagai "gadis baik".


Alhamdulillah, akhirnya ada seorang anak laki-laki yang bertanya, dan ia terus bertanya. Bocah itu banyak bertanya tentang trinitas. Ia mendapatkan banyak jawaban tapi tidak pernah puas. Sama seperti saya. Akhirnya guru kami, seorang profesor teologi dari Universitas Michigan , menyuruh untuk berdoa minta keteguhan iman. Saya pun berdoa.

Hal yang paling penting adalah tentang trinitas.


Saya tidak bisa memahaminya. Bagaimana bisa Tuhan terdiri dari tiga bagian, yang salah satunya adalah manusia? Di sekolah saya juga belajar mitologi Yunani dan Romawi, sehingga menurut saya pemikiran tentang trinitas dan orang suci seperti pemikiran budaya Yunani dan Romawi yang mengenal banyak dewa, yang masing-masing bertanggung jawab atas aspek kehidupan yang berbeda (astagfirullah!).

Ketika SMA diam-diam saya ingin menjadi seorang biarawati. Saya tertarik untuk melakukan peribadatan setiap harinya, tertarik kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan untuk Tuhan, dan menunjukkan sebuah gaya hidup yang relijius. Halangan atas ambisi ini hanya satu: saya bukan seorang Katolik. Saya tinggal di sebuah kota di wilayah Midwestern, di mana Katolik merupakan minoritas yang tidak populer.

Saya bertemu seorang Muslim dari Libya . Ia menceritakan saya sedikit tentang Islam dan Al-Quran. Ia bilang Islam itu modern, agama samawi yang paling up-to-date. Karena saya menganggap Afrika dan Timur Tengah itu terbelakang, maka saya tidak bisa melihat Islam sebagai sesuatu yang modern.

Keluarga saya mengajaknya ke acara Natal di gereja. Bagi saya acara itu sangat menyentuh dan berkesan. Tapi diakhir acara ia bertanya, "Siapa yang membuat aturan peribadatan seperti itu? Siapa yang mengajarkanmu kapan harus berdiri, membungkuk dan berlutut? Siapa yang mengajarimu cara beribadah?"

Saya menceritakan kepadanya sejarah awal gereja. Awalnya pertanyaannya itu sangat membuat saya marah, tapi kemudian saya jadi berpikir. Apakah orang-orang yang membuat tata cara peribadatan itu benar-benar punya kualifikasi untuk melakukannya? Bagaimana mereka bisa tahu bagaimana peribadatan itu harus dilakukan? Apakah mereka dapat wahyu tentang itu?

Saya sadar jika saya tidak mempercayai banyak ajaran Kristen, namun saya tetap pergi ke gereja. Ketika kredo Nicene dibacakan bersama-sama, saya hanya diam, saya tidak turut membacanya. Saya seperti orang asing di gereja.

Ada kejadian yang sangat mengejutkan. Seseorang yang sangat dekat dengan saya mengalami masalah dalam rumah tangganya. Ia pergi ke gereja untuk meminta nasihat. Orang dari gereja itu justru memanfaatkan kesusahan dan penderitaannya. Laki-laki itu mengajaknya ke sebuah motel dan kemudian merayunya.

Sebelumnya saya tidak memperhatikan benar apa peran rahib dalam gereja. Sejak peristiwa itu saya jadi memperhatikannya. Sebagian besar umat Kristen percaya bahwa pengampunan harus lewat sebuah acara peribadatan suci yang dipimpin oleh seorang pendeta. Tidak ada pendeta, tidak ada pengampunan.

Saya mengunjungi gereja, duduk, dan memperhatikan pendeta yang ada di depan. Mereka tidak lebih baik dari umat yang datang--sebagian di antaranya bahkan lebih buruk. Jadi bagaimana bisa seorang manusia biasa, diperlukan sebagai perantara untuk berkomunikasi dengan Tuhan? Mengapa saya tidak bisa berhubungan langsung dengan Tuhan, dan langsung menerima pengampunannya?

Tak lama setelah itu, saya mendapati terjemahan Al-Qur'an di sebuah toko buku. Saya lalu membeli dan membacanya, dan terus membaca, walau kadang terputus, selama delapan tahun. Selama itu saya juga mencari tahu tentang agama lain.

Saya semakin khawatir dan takut dengan dosa-dosa saya. Bagaimana saya tahu Tuhan akan memafkan dosa-dosa saya? Saya tidak lagi percaya dengan metode pengampunan ala Kristen akan berhasil. Beban-beban dosa begitu berat bagi saya, dan saya tidak tahu bagaimana membebaskan diri darinya. Saya sangat mengharapkan ampunan.

Membaca Al-Quran

Suatu kali, aku membaca Al-Quran yang bunyinya: Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani." Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu ada rahib-rahib, juga sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Quran dan kenabian Muhammad S.A.W). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh? [Al-Maidah: 82-84]

Saya mulai berharap bahwa Islam mempunyai jawabannya. Tapi bagaimana cara saya mencari tahu? Dalam berita di televisi saya melihat Muslim beribadat. Mereka punya cara tertentu untuk berdo'a. Saya menemukan sebuah buku--yang ditulis oleh non-Muslim-- yang menjelaskan cara beribadah orang Islam. Kemudian saya mencoba melakukannya sendiri. Kala itu saya tidak tahu tentang taharah dan saya shalat dengan cara yang keliru. Saya terus berdoa dengan cara itu selama beberapa tahun.

Akhirnya kira-kira 8 tahun sejak pertama kali saya membeli terjemahan Al-Quran dulu, saya membaca: "Pada hari ini telah ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu." [Al- Maidah: 3]

Saya menangis bahagia, karena saya tahu, jauh sebelum bumi diciptakan, Allah telah menuliskan bahwa Al-Quran ini untuk saya. Allah mengetahui bahwa Anne Collins di Cheektowaga, New York , AS, akan membaca ayat ini pada bulan Mei 1986.

Saya tahu banyak hal yang perlu dipelajari, seperti bagaimana cara shalat yang benar, sesuatu yang tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Quran. Masalahnya saya tidak kenal seorang Muslim satu pun.

Sekarang ini Muslim relatif mudah dijumpai di AS. Dulu saya tidak tahu di mana bisa bertemu mereka. Saya mendapatkan nomor telepon sebuah komunitas Muslim dari buku telepon. Saya lalu coba menghubunginya. Seorang laki-laki menjawab di seberang sana , saya panik lalu mematikan telepon. Apa yang akan saya katakan padanya? Bagaimana mereka akan menjawab pertanyaan saya? Apakah mereka akan curiga? Akankah mereka menerima saya, sementara mereka sudah saling memiliki dalam Islam?

Beberapa bulan kemudian saya kembali menelepon masjid itu berkali-kali. Dan setiap kali saya panik, saya menutupnya. Akhirnya, saya menulis sebuah surat , isinya meminta informasi. Seorang ikhwan dari masjid itu menelepon saya dan kemudian mengirimi saya selebaran tentang Islam. Saya katakan padanya bahwa saya ingin masuk Islam. Tapi ia berkata pada saya, "Tunggu hingga kamu yakin."

Jawabannya agar saya menunggu membuat saya kesal. Tapi saya sadar, ia benar. Saya harus yakin, sebab sekali menerima Islam, maka segala sesuatunya tidak akan pernah lagi sama.

Saya jadi terobsesi dengan Islam. Saya memikirkannya siang dan malam. Dalam beberapa kesempatan, saya mengendarai mobil menuju ke masjid (saat itu masjidnya berupa sebuah rumah yang dialihfungsikan menjadi masjid). Saya berputar mengelilinginya beberapa kali sambil berharap akan melihat seorang Muslim, dan penasaran seperti apa keadaan di dalam masjid itu.

Satu hari di awal Nopember 1986, ketika saya memasak di dapur, sekonyong-konyong saya merasa jika saya sudah menjadi seorang Muslim. Masih takut-takut, saya mengirim surat lagi ke masjid itu. Saya menulis: Saya percaya pada Allah, Allah yang Maha Esa, saya percaya bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, dan saya ingin tercatat sebagai orang yang bersaksi atasnya.

Ikhwan dari masjid itu menelepon saya keesokan harinya, dan saya mengucapkan syahadat melalui telepon itu. Ia berkata bahwa Allah telah mengampuni semua dosa saya saat itu juga, dan saya seperti layaknya seorang bayi yang baru lahir.

Saya merasa beban dosa-dosa menyingkir dari pundak. Dan saya menangis karena bahagia. Saya hanya sedikit tidur malam itu. Saya menangis, mengulang-ulang menyebut nama Allah. Ampunan yang saya cari telah didapat. Alhamdulillah.

Sumber: [di/iol/www.hidayatullah. com]

Baca Selengkapnya!

Berlaku Adil pada Anak

Anak-anak perlu diajarkan dan diperlakukan adil. Jika terjadi perbedaan, yakinkan mereka hal itu hanya berdasarkan kebutuhan yang berbeda, bukan berarti orangtua berlaku tak adil.


Sikap adil merupakan salah satu sikap mulia yang perlu diterapkan oleh umat muslim. Sebagai orangtua, penting untuk berprilaku adil terhadap seluruh anak-anaknya agar tidak timbul kecemburuan yang menggangu keharmonisan keluarga.


Ketika Allah mengartikan keadilan, maka Dia akan meniadakan penindasan. Allah telah melarang penindasan dan ketidakadilan terhadap-Nya. Seperti tertulis dalam firman Allah mengenai hari kiamat yang berbunyi, "Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya. (QS. al-Mu'min (40) : 17)


Nabi Muhammad juga berkata, "Wahai hamba-hamba- Ku, Aku haramkan kezaliman terhadap diri-Ku, dan Aku jadikan kezaliman itu juga haram di antara kamu,maka janganlah kamu saling mendzalimi satu sama lain." (Hadis Qudsi, Sahih Muslim 4674).


Keadilan adalah prasyarat dari ketakwaan. Tak ada seorang pun yang benar-benar takut kepada Allah tanpa berlaku adil. Seseorang baru bisa dikatakan memiliki keyakinan kuat jika memiliki tujuan berlaku adil dalam hidupnya terhadap Allah dan sesama manusia termasuk saat bertransaksi dan jual beli.


Seseorang yang tidak berlaku adil maka tidak akan dikategorikan sebagai orang beriman. Firman Allah berbunyi, "Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Mai'dah (5) : 8)


Semua orang tak terkecuali dengan latar belakang budaya dan keyakinan yang berbeda, percaya terhadap keadilan. Bahkan orang yang tidak adil dalam kehidupan mereka tertarik dengan konsep dan merespon positif di hati mereka ketika disebutkan keadilan. Hal itu karena sebagai manusia memiliki insting kecintaan terhadap rasa adil yang tetap ada di hati dalam kondisi apa pun.


Tidak ada yang lebih tak adil ketika orangtua berlaku tidak adil kepada anak-anaknya dalam memberikan hadiah, kebaikan perilaku dan dukungan yang diberikan.


Seperti diceritakan dalam sebuah hadis Al-Bukhari dan hadis Muslim, salah seorang sahabat Nabi Muhammad, Bashir bin Sad pada suatu meminta beliau untuk bertindak sebagai saksi ketika memberikan hadiah pada salah seorang anak laki-lakinya, Al-Nu'man. Nabi kemudian bertanya "Apakah kau berikan hadiah yang sama pada semua anak-anakmu? "

Bashir mengatakan tidak. Kemudian Muhammad berkata "Aku tidak bisa bertindak sebagai saksi dari ketidakadilan" .


Dalam hadis tersebut tampak, Nabi Muhammad mengatakan hal itu sebagai ketidakadilan terhadap anak-anak, yang sebagian diberikan hadiah lebih banyak dibandingkan anak yang lain.


Para pemuka agama menanggapi keadilan terhadap anak-anak dengan hati-hati. Mereka memastikan untuk mencium semua anak-anak ketika datang, tanpa ada satu anak pun terlewatkan. Sehingga tidak timbul kecemburuan atau iri antara satu anak dan lainnya.


Pada akhirnya, diharapakan dapat terjalin harmoni dalam rumah. Lebih jauh lagi, rasa kasih sayang itu dapat dirasakan oleh lingkungan sekitarnya.

Orangtua perlu mendukung satu sama lain dalam menunjukkan rasa adil diantara anak-anak. Terutama pada anak yang lebih tua kepada anak yang lebih muda. Apalagi kakak bisa menjadi pengasuh atau pengganti orangtua jika berhalangan atau meninggal dunia.


Namun yang tak kalah penting, keadilan bukan berarti pembagian uang yang sama. Kebutuhan setiap anak harus diukur dengan cermat berdasarkan kebutuhannya.

Contonya, seorang mahasiswa di universitas tentu membutuhkan dukungan keuangan lebih banyak dibandingkan adiknya yang masih di sekolah menengah atas. Demikian juga jika siswa sekolah menengah dibandingkan dengan kebutuhan anak di sekolah dasar atau taman kanak-kanak.


Ketika orangtua membelikan anak-anak perempuannya perhiasan emas, maka anak laki-laki diberikan hadiah lain. Sebaiknya, orangtua menyediakan hal-hal yang dibutuhkan anak-anaknya sesuai kebutuhan pada saat itu tanpa memperlihatkan ketidakadilan. Jika kebutuhan anak sama, maka mereka tahu akan diperlakukan dengan sama pula. (islamonline/ rin)



Baca Selengkapnya!

Abu Hanifah Yang Taat [Kisah Teladan]

Akibat menolak diangkat menjadi hakim, Abu Hanifah ditangkap. Ulama ahli hukum Islam itu pun di penjara. Sang penguasa rupanya marah besar hingga menjatuhkan hukuman yang berat.


Dalam penjara, ulama besar itu setiap hari mendapat siksaan dan pukulan. Abu Hanifah sedih sekali. Yang membuatnya sedih bukan karena siksaan yang diterimanya, melainkan karena cemas memikirkan ibunya. Beliau sedih kerena kehilangan waktu untuk berbuat baik kepada ibunya.

Setelah masa hukumannya berakhir, Abu Hanifah dibebaskan. Ia bersyukur dapat bersama ibunya kembali.


"Ibu, bagaimana keadaanmu selama aku tidak ada?" tanya Abu Hanifah.

"Alhamdulillah. .....ibu baik-baik saja," jawab ibu Abu Hanifah sambil tersenyum.




Abu Hanifah kembali menekuni ilmu agama Islam. Banyak orang yang belajar kepadanya. Akan tetapi, bagi ibu Abu Hanifah ia tetap hanya seorang anak. Ibunya menganggap Abu Hanifah bukan seorang ulama besar. Abu Hanifah sering mendapat teguran. Anak yang taat itu pun tak pernah membantahnya.


Suatu hari, ibunya bertanya tentang wajib dan sahnya shalat. Abu Hanifah lalu memberi jawaban. Ibunya tidak percaya meskipun Abu Hanifah berkata benar.


"Aku tak mau mendengar kata-katamu, " ucap ibu Hanifah. "Aku hanya percaya pada fatwa Zar'ah Al-Qas," katanya lagi.


Zar'ah Al-Qas adalah ulama yang pernah belajar ilmu hukum Islam kepada Abu Hanifah." Sekarang juga antarkan aku ke rumahnya,"pinta ibunya.


Mendengar ucapan ibunya, Abu Hanifah tidak kesal sedikit pun. Abu Hanifah mengantar ibunya ke rumah Zar'ah Al-Qas.


"Saudaraku Zar'ah Al-Qas, ibuku meminta fatwa tentang wajib dan sahnya shalat," kata Abu Hanifah begitu tiba di rumah Zar'ah Al-Qas.


Zar'ah Al-Qas terheran-heran kenapa ibu Abu Hanifah harus jauh-jauh datang ke rumahnya hanya untuk pertanyaan itu? Bukankah Abu Hanifah sendiri seorang ulama? Sudah pasti putranya itu dapat menjawab dengan mudah.


"Tuan, Anda kan seorang ulama besar? kenapa Anda harus datang padaku?" tanya Zar'ah Al-Qas.


"Ibuku hanya mau mendengar fatwa dari anda," sahut Abu Hanifah.

Zar'ah tersenyum," baiklah, kalau begitu jawabanku sama dengan fatwa putra anda," kata Zar'ah Al-Qas akhirnya.


"Ucapkanlah fatwamu," kata Abu Hanifah tegas.


Lalu Zar'ah Al-Qas pun memberikan fatwa. Bunyinya sama persis dengan apa yang telah diucapkan oleh Abu Hanifah. Ibu Abu Hanifah bernafas lega.


"Aku percaya kalau kau yang mengatakannya, " kata ibu Abu Hanifah puas. Padahal, sebetulnya fatwa dari Zar'ah Al-Qas itu hasil ijtihad (mencari dengan sungguh-sungguh) putranya sendiri, Abu Hanifah.


Dua hari kemudian, ibu Abu Hanifah menyuruh putranya pergi ke majelis Umar bin Zar. Lagi-lagi untuk menanyakan masalah agama. Dengan taat, Abu Hanifah mengikuti perintah ibunya. Padahal, ia sendiri dapat menjawab pertanyaan ibunya dengan mudah.


Umar bin Zar merasa aneh. Hanya untuk mengajukan pertanyaan ibunya, Abu Hanifah datang ke majelisnya.

"Tuan, Andalah ahlinya. Kenapa harus bertanya kepada saya?" kata Umar bin Zar.


Abu Hanifah tetap meminta fatwa Umar bin Zar sesuai permintaan ibunya.

"Yang pasti, hukum membantah orang tua adalah dosa besar," kata Abu Hanifah.


Umar bin Zar termangu. Ia begitu kagum akan ketaatan Abu Hanifah kepada ibunya.


"Baiklah, kalau begitu apa jawaban atas pertanyaan ibu Anda?"

Abu Hanifah memberikan keterangan yang diperlukan.


"Sekarang, sampaikanlah jawaban itu pada ibu anda. Jangan katakan kalau itu fatwa anda,"ucap Umar bin Zar sambil tersenyum.


Abu Hanifah pulang membawa fatwa Umar bin Zar yang sebetulnya jawabannya sendiri. Ibunya mempercayai apa yang diucapkan Umar bin Zar.


Hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Ibunya sering menyuruh Abu Hanifah mendatangi majelis-majelis untuk menanyakan masalah agama. Abu Hanifah selalu menaati perintah ibunya. Ibunya tidak pernah mau mendengar fatwa dari Abu Hanifah meskipun beliau seorang ulama yang sangat pintar.



Sumber Kisah kisah teladan

Baca Selengkapnya!

Kejujuran Sang Imam [kisah teladan]

Bissmillahirrohmaan irrohiim


Selepas sholat subuh, Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat kota kufah. Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang akan dijual. Sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkannya dan meletakkannya di tempat yang terbuka. Supaya kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya.

Ketika hari mulai siang, banyak pengunjung yang datang ke tokonya untuk membeli barang dagangannya. Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.

"Mari silakan, dilihat dulu barangnya. Mungkin ada yang disukai,"tawar Imam Hanafi tersenyum ramah.

Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri.

"Bolehkah aku melihat pakaian itu?" tanya perempuan itu. Imam Hanafi segera mengambilkannya.

"Berapa harganya?"tanyanya sambil memandangi pakaian itu. Pakaian ini memang bagus. Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya."Imam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu.

"Sayang sekali."perempuan itu tampak kecewa.

"Kenapa Tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?"

"Kain ini sangat bagus dan sedang digemari. Walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja."

"Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain,"katanya.

"Tidak apa-apa, terima kasih,"sahut Imam Hanafi tetap tersenyum dalam hati, perempuan itu memuji kejujuran pedagang itu. Tidak banyak pedagang sejujur dia. Mereka sering menyembunyikan kecacatan barang dagangannya.

Sementara itu ada seorang perempuan tua, sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak. Berulang-ulang dipegangnya baju itu. Lalu diletakkan kembali. Imam Hanafi lalu menghampirinya.

"Silakan, baju itu bahannya halus sekali. Harganya pun tak begitu mahal."

"Memang, saya pun sangat menyukainya. " Orang itu meletakkan baju di rak. Wajahnya kelihatan sedih. "Tapi saya tidak mampu membelinya. Saya ini orang miskin,"katanya lagi.

Imam Hanafi merasa iba. Orang itu begitu menyukai baju ini, saya akan menghadiahkannya untuk ibu,"kata Imam Hanafi.

"Benarkah? Apa tuan tidak akan rugi?"

"Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih."Lalu, Imam Hanafi membungkus baju itu dan memberikannya pada orang tersebut.

"Terima kasih, Anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi." Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.

Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar. Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu. Ia lalu menitipkan tokonya pada seorang sahabatnya sesama pedagang.

Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan pada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain yang ada cacatnya itu.

"Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat di bagian lengannya. Berikan separo harga saja," kata Imam Hanafi. Sahabatnya mengangguk. Imam Hanafi pun berangkat ke majelis pengajian.

Sesudah hari gelap ia baru kembali ke tokonya.

"Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu. O, iya! Pakaian yang itu juga sudah dibeli orang,"kata sahabatnya menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.

"Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?" tanya Hanafi.

"Masya Allah aku lupa memberitahunya. Pakaian itu sudah dibelinya dengan harga penuh."sahabatnya sangat menyesal.

Hanafi menanyakan ciri-ciri orang yang membeli pakaian itu. Dan ia pun bergegas mencarinya untuk mengembalikan sebagian uangnya.

"Ya Allah! Aku sudah menzhaliminya, "ucap Imam Hanafi.

Sampai larut malam, Imam Hanafi mencari orang itu kesana-kemari. Tapi tak berhasil ditemui. Imam Hanafi amat sedih.

Di pinggir jalan tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri. Tanpa berpikir panjang lagi, ia sedekahkan uang penjualan pakaian yang sedikit cacat itu semuanya.

"Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian bercacat itu,"ucap Imam Hanafi. Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian itu.

Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya pada orang lain.

Keesokan harinya Imam Hanafi kedatangan utusan seorang pejabat pemerintah. Pejabat itu memberikan hadiah uang sebanyak 10.000 dirham sebagai tanda terima kasih. Rupanya sang ayah merasa bangga anaknya bisa berguru pada Imam Hanafi di majelis pengajiannya. Imam Hanafi menyimpan uang sebanyak itu disudut rumahnya. Ia tidak pernah menggunakan uang itu untuk keperluannya atau menyedekahkannya sedikitpun pada fakir miskin.

Seorang tetangganya merasa aneh melihat hadiah uang itu masih utuh.

"Kenapa Anda tidak memakainya atau menyedekahkannya? " tanyanya.

"Tidak, Aku khawatir uang itu adalah uang haram," kata Imam Hanafi.

Barulah tetangganya mengerti kenapa Imam Hanafi berbuat begitu. Uang itu pun tetap tersimpan disudut rumahnya. Setelah beliau wafat, hadiah uang tersebut dikembalikan lagi kepada yang memberinya.


Sumber kisah kisah teladan

Baca Selengkapnya!

Cahaya yang tak pernah padan [kisah teladan]

Assalamualaikum Wr Wb

Bissmillahirrohmaan irrohiim

Pada saat Nabi Muhammad SAW berdakwah, beliau selalu mendapat perlakuan tidak baik dari Abu Lahab dan kawan-kawan. Ejekan, hinaan, dan penganiayaan diterima Nabi SAW dan pengikutnya. Namun, sedikit pun tidak melemahkan iman mereka. Tidak pula menyurutkan tekad dan semangat Nabi SAW dalam menjalankan dakwahnya.

Abu lahab bersama kawan-kawannya, Abu Jahal, dan Abu sufyan semakin geram melihat pengikut Nabi SAW bertambah banyak. Memang, mereka selalu hadir jika Nabi SAW sedang berdakwah, tetapi dikepala mereka tersimpan beribu rencana jahat untuk mengacaukannya.

"Wahai Muhammad !" teriak Abu Lahab ketika Nabi SAW sedang berdakwah. "Kamu mengaku sebagai Nabi, tetapi kami tak pernah melihat buktinya ! Bagaimana kami percaya...? "ejek Abu Lahab.

"Sekarang, perlihatkan mukjizatmu !" seru Abu Jaha l pula.

"Ya ! Sebagaimana mukjizat nabi Isa. Coba hidupkan orang yang sudah mati !" kata Abu Sufyan.

"Bisakah kamu mengubah bukit safa dan marwah menjadi bukit emas? !" kata yang lainnya mengolok-olok Nabi.

Muhammad SAW tidak menanggapi ulah orang-orang jahil itu. Begitu pula pengikutnya, tidak terpengaruh sedikitpun. Allah yang Maha Kuasa menurunkan Wahyu-Nya kepada Nabi SAW, untuk menyanggah perkataan orang-orang kafir itu.

Lalu Nabi SAW, menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada kaum yang sesat itu.

"Hai, kaum Quraisy ! Sesungguhnya Allah telah berfirman, Katakanlah bahwa aku tidak kuasa memberi kemanfaatan dan kemudaratan bagi diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.

Jika aku tahu barang yang ghaib, tentu aku perbanyak berbuat amal kebajikan, dan tentu aku tidak akan mendapat kesusahan. Tidaklah aku, melainkan Basyir dan Nazir, menyampaikan janji bahagia dan berita pernyataan sengsara."

"Sudahlah, Muhammad! Jika kamu mau menghentikan pekerjaanmu, kami akan mengangkatmu menjadi raja. Atau kami memberimu harta, kekayaan, dan kemewahan... '" kata Abu Jahal.

Abu jahal dan kawan-kawannya tetap mendustakan Nabi. Mereka hanya ingin mempengaruhi pengikutnya agar kembali menyembah berhala.

"Kenapa kalian menuntutku untuk memperlihatkan mukjizat ? Sedangkan wahyu yang kusampaikan ini lebih dari segala macam mukjizat. Cahaya yang tak pernah padam," Kata Nabi SAW.

Pengikut Nabi SAW semakin teguh imannya mendengar wahyu yang disampaikan beliau. Keadaan itu membuat kaum kafir kian marah dan menentang usaha-usaha Muhammad. Mereka amat membencinya. Mereka beranggapan ia sudah menghina tuhan-tuhan mereka. Maka suatu hari, orang-orang kafir itu datang kepada Abu Thalib, paman Nabi SAW sendiri. Mereka mengadukan semua perbuatan Nabi Muhammad SAW.

Abu Thalib, seorang pelindung dan pembela Nabi SAW, meskipun waktu itu tidak masuk Islam. Dengan penuh bijaksana ia menengahinya, akan tetapi kali ini orang kafir tidak merasa puas dengan Abu Thalib.

"Hai Abu Thalib, selama ini kamu selalu membela Muhammad dan melindunginya dari kami. Coba suruh Muhammad menghentikan perbuatannya itu! Kalau tidak' maka kami akan bertindak sendiri!" Abu Sufyan mengancam dengan keras.

"Kami akan bunuh Muhammad! Jika ia masih terus menghina berhala kami," sahutnya lagi tidak main-main.

Abu Thalib tertegun, ia amat bingung harus berbuat apa. Muhammad adalah keponakannya yang sangat ia cintai dan sayangi. Sedangkan ia sendiri masih menyembah berhala seperti kaum kafir. Ia tak ada niat untuk meninggalkan agamanya. Tetapi, kalau sampai menyerahkan Nabi SAW ke tangan orang-orang itu, Abu Thalib tidak bisa.

Ah !.....hati orang tua itu terasa gundah, karena rasa sayang yang begitu besar pada Nabi Muhammad SAW, Abu Thalib segera memanggil Nabi SAW. Diceritakannya semua ancaman orang kafir itu dengan hati yang cemas.

"Anakku, dengarkanlah, " kata Abu Thalib. Nabi Muhammad SAW menatap pamannya dengan perasaan berdebar-debar. Nabi menunggu apa yang akan dikatakan Abu Thalib.

"Aku harap kamu bisa menjaga dirimu dan diriku. Jangan membebani aku dengan sesuatu yang tak sanggup aku pikul," kata Abu Thalib.

Sungguh , Nabi SAW sedih mendengarnya. Satu-satunya orang yang selalu membelanya, kini seakan tidak mau lagi membela. Tetapi, Nabi SAW tidak mau kaumnya terus menerus berada dalam kegelapan dan kesesatan. Beliau sudah diberi petunjuk dengan cahaya kebenaran.

Dengan semangat yang menyala, Nabi memandang pamannya. "Wahai, Pamanku!" kata Nabi SAW. "Meskipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku, agar aku meninggalkan seruanku. Sungguh, sampai mati pun tidak akan kutinggalkan !"

Tanpa menoleh lagi, Rasulullah meninggalkan Abu Thalib. Alangkah bergetar seluruh tubuh Abu Thalib mendengar ucapan itu. Ia tertegun beberapa saat. Lalu segera memanggil Nabi lagi.

"Anakku ! Pergilah dengan tenang. Katakanlah apa yang ingin kamu katakan pada kaummu. Sungguh, aku tidak akan menyerahkan dirimu pada orang-orang kafir," kata Abu Thalib penuh haru.

Abu Thalib pun memerintahkan keluarganya, bani Muthalib dan Bani Hasyim untuk melindungi Nabi SAW dari penganiayaan kaum Quraisy.

Nabi Muhammad SAW meneruskan perjuangannya, walaupun orang-orang kafir menghalanginya dengan tindakan-tindakan yang kejam.

Begitu besar makna dan pengaruh ucapan Nabi di depan pamannya, seakan menggema di dalam dada kaum muslimin. Mereka rela berkorban jiwa sekalipun, asalkan tetap menyiarkan agama Allah.

Kesungguhan Nabi SAW menjalankan dakwah telah membuat musuhnya kalang kabut. Tetapi, menjadi batu magnet yang menarik setiap pengikutnya untuk tetap setia pada ajaran-Nya.

Baca Selengkapnya!

Etika Yang diajarkan dalam Islam

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh


Bissmillahirrohmaan irrohiim’


“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. QS. Al-Imran (3) ayat 110


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. QS.An-Nisa (4) ayat 29.


"Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam."QS.Al-Maidah ( 5) ayat 28.

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. QS. An-Nisaa (4) ayat 93.


“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)”, QS.Al-Furqon (25) ayat 68.


Saudaraku, ketika saya menerima pesan singkat yang isinya pada intinya menghalalkan terjadinya peledakan Hotel Marriott dan Ritz Carlton, sungguh saya sangat sedih, dan bertanya tanya, betulkah yang mengirim pesan singkat pada saya adalah seorang muslim.


Setahu saya (maaf Ilmu Agama saya masih sangat minim, karena saya belajar Islam setelah saya berumah tangga dan sudah memiliki dua orang anak) dan tidak satupun agama yang mengajarkan pada pemeluknya untuk mengajarkan perbuatan tercela, terlebih ajaran Islam, justru ajaran Islamlah yang paling menentang perbuatan tercela tersebut, seperti membunuh, merusak dan bahkan bunuh diri, tidak satupun ayat dalam Al-Qur’an yang membenarkan kita melakukan perbuatan tercela yang mencelakakan orang lain, atau mencelakan diri sendiri, bahkan Islam mengajarkan kita agar berakhlaq mulia, sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah SAW, sebagaimana tertuang dalam QS dan Ayat ayat tersebut diatas, bahkan kita seluruh kaum muslimin diajarkan :



Agar umat Islam memiliki sifat Kritis dan teliti.

QS. Al-Hujurat (49) ayat 6. yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

“Suatu hari Rasullah berkata kepada Asyaj Abdul Qais:”Sesungguhnya ada dua perkara di dalam dirimu yang disukai Allah, yaitu kritis dan ketelitian”
(HR. Muslim).



Agar umat Islam bersikap Lembut dan Pemaaf.


QS. Al-Imran (3) ayat 159. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”.


“Rasulullah bersabda:”Barangsiapa meninggalkan sikap lembut, maka ia telah meninggalkan kebaikan semuanya”. (HR. Muslim).




Agar umat Islam berlaku Jujur


“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”. QS.Al-Muthafifin (83) ayat 1-3


”sesunggunya kejujuran membawa kepada kebaikan, kebaikan mengantarkan kepasa surga, dan seorang akan berbuat jujur sehingga ia dijuluki orang jujur”. (HR. Bukhari Muslim).



Agar umat Islam bersikap Sabar.


“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. QS. Al-Baqarah (2) ayat 153.



“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”, QS. Al-Baqarah (2) ayat 155


“Barangsiapa bersabar maka Allah akan bersabar untuknya, tidak ada pemberian Allah yang lebih kepada hambaNya kecuali kesabaran” (HR. Bukhari Muslim).



Agar Umat Islam Tawadlu’ atau rendah hati


QS.Lukman (31) ayat 18. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.


”Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar aku bertawadlu’,
sehingga tidak ada orang merasa sombong dan lebih tinggi dari lainnya dan tidak ada orang menghianati lainnya” (HR. Muslim).


“Tidak ada orang yang bertawadlu kepada Allah, kecuali Allah akan
mengangkatnya” (HR. Muslim).




Agar umat Islam Amanah


QS.Al-Anfal (8) ayat 27. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”.


”Tanda-tanda orang munafik ada tiga, ketika bicara bohong, ketika
janji mengingkari dan ketika dipercayai menghianati”. (HR. Bukhari
Muslim).


Agar Umat Islam Memiliki rasa Malu yang tinggi


”Rasa malu itu selalu mendatangkan kebaikan” (HR. Bukhari Muslim)

“Malu itu bagian dari iman” (HR. Bukhari Muslim).



Agar umat Islam berkata manis dan muka yang ramah


”Takutkan kalian dari neraka walaupun dengan sebutir kurma, kalau
tidak bisa maka bisa dengan perkataan yang manis” (HR. Bukhari
Muslim).


”Kalimat yang baik merupakan sedekah” (HR. Bukhari Muslim).


Agar umat Islam Berbakti kepada kedua orang tua dan handai taulan


QS.An-Nisa (4) ayat 36. "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan- Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri",


Ibnu Mas’ud bertanya kepada Rasulullah s.a.w.;” Apa perbuatan yang paling disukai Allah?


Jawab Rasulullah:”Sholat di waktunya”,


Ibnu Mas’ud:”Lalu apa?”

Jawab Rasulullah:”Berbuat baik kepada kedua orang tua” (HR. Bukhari Muslim).


Agar Umat Islam Memperbanyak hubungan Silaturrahim atau berhubungan dengan halayak luas


“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. QS. An-Nisa (4) ayat 1.


“Barangsiapa ingin diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia bersilaturrahmi”. (HR. Bukhari).


Dasar baik ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits diatas jelaslah bahwa agama Islam, agama yang Rahmatan Lil’alamiin, serta masih banyak lagi ajaran ajaran Agama Islam yang mangarahkan serta membuat pemeluk agama Islam yang mengajarkan umatnya agar berbudi luhur, bukan mengajarkan untuk berprilaku yang menyimpang serta pengrusakan baik Akhlak, mental serta prilaku penyimpangan lainya.





Wallahualam Bisawab , Hanya Allah yang Tahu



Waassalam


Mujiarto Karuk

Baca Selengkapnya!

Siapa Musuh Islam Yang Sebenarnya

Assalamualaikum Wr Wb



Bissmillahirrohmaan irrohiim


”Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” QS.Shaad 38 ayat 28.



“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. QS. At-Taubah (9) ayat 71.



Ketika saya ditanya oleh teman, yang menghubungi saya, sehubungan terlah terjadi musibah peledakan dan menimbulkan banyak korban jiwa di JW Marriott dan Ritz-Carlton, pada hari Jum’at 17 Juli 2009 lk pukul 07.55 dan 07.57 WIB, saya katakan pada beliau bahwa pelakunya adalah seseorang dan atau sekelompok orang yang telah menempatkan dirinya untuk menjadi “Musuh Islam” dan saya katakan musuh Islam itu sebenarnya bukan hanya dari kelompok Non Muslim, bisa jadi dari yang menamakan dirinya Komunis Muslim dan bisa jadi dari kalangan kita sendiri yang tidak menyadari bahwa tindakannya selama ini hanya akan menghancurkan Islam.

Siapapun orang nya dan apapun agamanya apa bila ia, cinta damai dan tetap memelihara kedamaian yang telah tercipta tersebut, serta tidak melakukan hal hal yang dapat menimbulkan kekacauan, keributan, kerusakan, keretakan persatuan yang telah dibentuk dan dibina untuk amar makruf nahi mungkar, dan bahkan menimbulkan korban jiwa, dia, atau mereka itu lah yang disebut orang orang yang tentram, dan orang orang yang akan menerima pahala atas perbuatnnya tersebut, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 62



“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.



Jadi jelaslah walau kita mengaku Muslim, kita shalat lima waktu, kita Saum, dan kita rajin nulis yang berjudul seputar amar makruf nahi mungkar, akan tetapi kita baru pandai menulis, belum pandai melakukan dan melaksanakan apa yang kita tulis, apa yang kita bicarakan, apa yang kita diskusikan, dan apa yang ucapkan, bahkan sebaliknya, kita mengatakan kamu harus jujur, sementara kita berdusta, kamu harus tertib, sementara kita banyak melakukan pelanggaran hukum baik hukum agama maupun hukum pemerintah yang tidak bertentangan dengan Hukum yang telah Allah SWT tetapkan, kamu harus ini dan kamu harus itu, sementara kita melakukan perbuatan yang tidak sesuai tuntunan Islam, bahkan kita sering menipu diri sendiri, kalau menurut saya ia, atau, mereka lah musuh Islam yang sebenarnya, ini sesuai dan sebagaimana yang telah Allah gambarkan dalam Al-Qur’an tersebut dalam pembukaan diatas.



Maka dari itu mari kita belajar menggali Al-Qur’an dan Al-Hadits yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan mari kita praktekan, kita laksanakan, dan mari kita hijrah dari pola pikir yang kerdil menuju pola pikir yang lebih luas sesuai tuntunan dan petunjuk dan anjuran yang telah Nabi Muhammad SAW, wariskan dan ajarkan untuk kita semua.



Ya Allah Ya Tuhan kami terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui



Ya Allah Ya Tuhan kami, berikanlah kesabaran kepada kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir



Ya Allah Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.



Ya Allah Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami.



Ya Allah Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir



Ya Allah Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi karunia



Ya Allah Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir



Ya Allah Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi



Ya Allah Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang lalai terhadap agamanya



Ya Allah Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak yang adil dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya, karena Engkau Maha Melihat apa apa yang telah kami lakukan.



Ya Allah Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang lalai itu



Ya Allah Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Mu Ya Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit



Ya Allah Ya Tuhan kami, beri ampunlah kepada kami dan kedua ibu bapakku kami yang beriman dan sekalian orang-orang mukmin sampai pada hari terjadinya hisab



Ya Allah Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah serta masukanlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi atas kebenaran Al Qur'an dan kenabian Muhammad saw



Ya Allah Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka



Ya Allah Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan bahagian di akhirat.



Ya Allah ya Tuhan kami, perkenankanlah doa ku.





Wassalamualaikum Wr Wb







Mujiarto Karuk

Baca Selengkapnya!