Thursday, August 20, 2009

Manisnya Iman, Sudahkah kita Merasakannya?

Written by Masrukhin
Abbas bin Abdul Muthalib berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Orang yang akan menikmati manisnya iman adalah orang yang ridha Allah swt. sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai rasulnya." (HR Muslim)

Orang yang ridha kepada Allah swt. adalah orang yang akan menikmati manisnya iman. Saudaraku, coba renungkan kata 'menikmati' dalam hadits di atas. Rasulullah saw. mengibaratkan iman layaknya makanan yang mempunyai cita rasa, dan yang dapat menikmatinya adalah orang-orang yang dalam hatinya tersimpan dalam hatinya rasa ridha dan puas, tidak hanya ucapan di mulut belaka.

Sering kali kita mendapati orang yang gemar mengucapkan rasa ridhanya atas karunia Allah swt., tapi itu hanya sebatas di bibir, belum sampai merasuk ke dalam hatinya. Dan mungkin kita juga melakukan hal yang sama. Kita mengucapkan, "Saya ridha Allah swt. sebagai Tuhanku, tapi kita tidak memahami bahwa sebagai konsekuensi dari perkataan itu adalah kita mesti ridha segala sesuatu yang telah ditetapkan Allah swt. pada diri kita, ridha atas takdirnya dan ridha atas rezeki yang dianugerahkan kepada kita."

Siapapun yang menginginkan manisnya iman, ia harus ridha Allah swt. sebagai Tuhannya. Dengan demikian, ia juga akan ridha dengan segala sesuatu yang telah ditetapkan Allah swt. padanya. Hanya Allah swt. yang bisa memberikan rezeki dan pertolongan, tidak ada yang lain selain Dia.

Janganlah kita lupa akan tujuan Allah swt. menciptakan kita, dan jangan sampai apa yang diciptakan Allah swt. membuat kita lalai untuk beribadah kepada-Nya. Dalam hadits Qudsi, Allah swt. berfirman, "Hambaku! Aku menciptakanmu demi Aku, dan aku menciptakan dunia demi kamu, maka dunia yang Aku ciptakan ini jangan sampai membuatmu lalai dari-Ku. "

Saudaraku, kala kita sudah ridha kepada Allah swt. dan segala permasalahan kita serahkan kepada-Nya, maka rasa aman, damai dan tenggang akan dapat kita rasakan. Kita tidak akan pernah merasa galau saat mengingat masa lalu, dan kita juga tidak akan diselimuti rasa takut saat menatap masa depan. Inilah wujud dari surga dunia, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Qayyim, "Ridha adalah pintu Allah swt. yang paling agung. Tempat istirahatnya orang-orang yang ahli ibadah dan wujud dari surga dunia. Siapa yang selama hidup di dunia belum pernah menikmatinya, ia tidak akan menikmatinya di akhirat."


Baca Selengkapnya!

Tuesday, August 11, 2009

Kenapa Shalat Harus Menghadap Ka'bah?

Mungkin selama ini kita selalu bertanya setiap kali kita melakukan ibadah sekaligus rukun Islam nomor dua yaitu shalat kita selalu menghadap kiblat, atau dalam hal ini Ka'bah. Nah mengapakah sebenarnya harus menghadap Ka'bah?

Hal ini sebenarnya merupakan sejarah yang paling tua di dunia. Bahkan jauh sebelum manusia diciptakan di bumi, Allah swt telah mengutus para malaikat turun ke bumi dan membangun rumah pertama tempat ibadah manusia. Ini sudah dituturukan dalam Al-Quran: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia . (QS. Ali Imran : 96).

Konon di zaman Nabi Nuh as, ka’bah ini pernah tenggelam dan runtuh bangunannya hingga datang masa Nabi Ibrahim as bersama anak dan istrinya ke lembah gersang tanpa air yang ternyata disitulah pondasi Ka’bah dan bangunannya pernah berdiri. Lalu Allah swt memerintahkan keduanya untuk mendirikan kembali ka’bah di atas bekas pondasinya dahulu. Dan dijadikan Ka’bah itu sebagai tempat ibadah bapak tiga agama dunia. Dan ketika Kami menjadikan rumah itu (ka’bah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (QS. ). Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, (QS. Al-Hajj : 27).

Di masa Nabi Muhammad, awalnya perintah shalat itu ke baitul Maqdis di Palestina. Namun Rasulullah saw berusaha untuk tetap shalat menghadap ke Ka’bah. Caranya adalah dengan mengambil posisi di sebelah selatan Ka’bah. Dengan mengahadap ke utara, maka selain menghadap Baitul Maqdis di Palestina, beliau juga tetap menghadap Ka’bah.

Namun ketika beliau dan para shahabat hijrah ke Madinah, maka menghadap ke dua tempat yang berlawanan arah menjadi mustahil. Dan Rasulullah saw sering menengadahkan wajahnya ke langit berharap turunnya wahyu untuk menghadapkan shalat ke Ka’bah. Hingga turunlah ayat berikut :

Sungguh Kami melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah : 144).

Jadi di dalam urusan menghadap Ka’bah, umat Islam punya latar belakang sejarah yang panjang. Ka’bah merupakan bangunan yang pertama kali didirikan di atas bumi untuk dijadikan tempat ibadah manusia pertama. Dan Allah swt telah menetapkan bahwa shalatnya seorang muslim harus menghadap ke Ka’bah sebagai bagian dari aturan baku dalam shalat. (sa/berbagaisumber)

Baca Selengkapnya!

Selamat Datang Ramadhan Mubarak

Anwar Alawlaki

Ramadhan adalah bulan dedikasi untuk Al Quran. Semoga kita semua bisa berhubungan dengan kebaikan sepanjang bulan suci ini.
Ramadhan Mubarak untuk kita semua. Kami memohon kepada Allah swt agar senantiasa membimbing kita melakukan perbuatan baik, dan berkenan menerima ibadah shaum dan doa kita.

Ramadhan adalah bulan Al Quran dan kebaikan. Ibnu Abbas mengatakan, “Saya tidak pernah melihat orang yang lebih baik lagi daripada Rasulullah, dan dia adalah orang yang paling murah hati ketika Jibril membacakan Quran dengannya.”

Imam Malik biasanya menutup semua buku hadis dan fiqihnya pada bulan Ramadhan dan mendedikasikan waktunya untuk Al Quran sepanjang bulan ini.

Allah swt berfirman bahwa Ramadhan adalah bulan di mana Al Quran diturunkan. Jadi, pembukaan Quran dimulai pada bulan Ramadhan.

Maka, saudara-saudariku, kita harus fokus pada Al Quran selama bulan suci ini. Janganlah kita pernah lupa bahwa Ramadhan adalah bulan di mana banyak peperangan besar terjadi, seperti perang yang biasa saja, perang Badar, dan juga penaklukan kota Mekkah yang terjadi pada bulan ini. Juga ada peperangan besar yang menyelematkan bangsa Muslim dari invasi bangsa Mongol, yaitu pada perang Ayn Jalut.

Jadi jangan pernah juga kita melupakan bahwa saudara-sudara kita berjuang bersama kita, hendaknya untuk mereka itu kita senantiasa berdoa dan mengirimkan dukungan.

Kita harus bersyukur bahwa kita masih diberi kesempatan untuk berbuka shaum bersama keluarga kita, sementara ribuan saudara kita di penjara dan hanya Allah yang tahu kondisi mereka. Mereka adalah ribuan keluarga yang terpisahkan dari keluarga terkasihnya. Mari kita doakan mereka sepanjang Ramadhan ini.

Ya Allah, bebaskanlah saudara-saudara Muslim kami dari penjara para tiran, dan berkahilah mereka dengan rahmatmu. Ya Allah, terima lah perbuatan baik kami dan maafkanlah kesalahan-kesalahan kami selama ini. Amiin.

sumber www.eramuslim.com

Baca Selengkapnya!

Renungan Indah

W.S. Rendra


Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini

hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya : mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua
"derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh
dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".....


Semoga bermanfaat.. !!!

Baca Selengkapnya!

Saturday, August 8, 2009

Hari Pembalasan

Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)

Ketika Nabi Muhammad SAW mulai berdakwah Islam di Makkah, terdapat tiga inti pesan-pesan yang beliau dakwahkan,

• Bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah SWT. Hanya Dia yang patut disembah. Janganlah mengada-adakan sekutu bagi-Nya dalam bentuk apapun. Pada waktu itu, penduduk Makkah tidak berkeberatan untuk beribadah kepada Tuhan Yang Esa, namun mereka menghendaki adanya sekutu di sisi-Nya. Walaupun demikian, mereka tidak sanggup melawan Nabi Muhammad SAW dengan cukup kuat untuk memberikan keuntungan bagi pandangan mereka itu.
• Inti dakwah yang ke-dua adalah, Nabi Muhammad SAW menyerukan “Aku adalah Rasul (Utusan/pembawa risalah) dari Allah SWT.” Masyarakat Makkah tidak bersedia menerima kenyataan ini, tetapi mereka tidak memiliki alasan apapun untuk mengatakan kepada orang lain bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mengatakan yang sebenarnya, karena mereka telah sejak lama mengenal beliau sebagai Al-Amin (yang terpercaya). Maka, orang-orang Makkah tidak bisa melakukan seruan yang berlawanan dengan risalah baru ini.

• Ke-tiga, Nabi Muhammad SAW menyerukan, “Kelak akan tiba Hari Pembalasan dan manusia akan menerima catatan perhitungan amal perbuatan mereka. Mereka menerima ganjaran/pahala ataukah siksa sesuai dengan timbangan amal perbuatan mereka pada Hari Pembalasan.” Pesan inilah yang mendasari penduduk Makkah untuk menyanggah ‘habis-habisan’ risalah baru ini. Sanggahan mereka kepada Rasulullah SAW itu diabadikan oleh Allah SWT didalam Al-Qur’an Surat Al-Waqiah ayat 47, 48:

Dan mereka selalu berkata: “Apakah benar!? setelah kami mati dan menjadi debu dan tulang-belulang kemudian kami dihidupkan kembali? Dan begitu pun dengan nenek-moyang kami (juga dibangkitkan)?!”

Orang-orang Makkah tidak hanya melontarkan pertanyaan ketidak-percayaan seperti itu, mereka pun menertawakan dan berolok-olok terhadap peringatan yang disampaikan Rasulullah SAW dan bahkan mengatakan bahwa beliau telah gila. Allah SWT menjawab pertanyaan mereka itu dalam kelanjutan Surat Al-Waqi’ah Ayat 49~56

Katakanlah (wahai Muhammad SAW), sesungguhnya (dibangkitkan oleh Allah) mereka itu dari umat terdahulu hingga umat yang terkemudian. Semua akan dihimpun bersama-sama pada hari yang telah dipermaklumkan. Kemudian, sesungguhnya bagi kamu, wahai orang yang sesat lagi mendustakan, niscaya akan makan dari pohon zaqqum, yang akan memenuhi perutmu. Lalu kamu meminum air yang sangat panas. Kamu minum air itu bagaikan onta yang sangat haus. Itulah hidangan untuk mereka di Hari Pembalasan.

Kata ‘Nuzul’ mempunyai arti hidangan selamat datang bagi tamu yang baru tiba. Dengan demikian ‘Nuzuluhum’ berarti hidangan ini barulah sajian awal dalam rangka menyambut kedatangan mereka (orang-orang yang sesat lagi mendustakan). Apa-apa yang selanjutnya akan mereka dapatkan jauh lebih tak tertahankan.
Para penduduk Makkah waktu itu pun terbiasa mengatakan sebagaimana diabadikan Allah SWT dalam surat Al-Mulk Ayat 25,

Bilakah datangnya hari itu jika perkataanmu sungguh benar adanya?
Allah SWT memberikan jawaban-Nya pada ayat selanjutnya, Surat Al-Mulk Ayat 26,

Katakanlah (wahai Muhammad)! Sesungguhnya pengetahuan atas hari itu ada pada Allah semata. Dan sesungguhnya aku hanyalah sebagai pemberi peringatan yang jelas.
Pertanyaan-pertanyaan menyangkut Hari Pembalasan yang sedemikian itu oleh orang-orang Makkah biasa dilontarkan berulang-kali sebagai olok-olok. Allah SWT juga menjawab olok-olok mereka itu dengan firman-Nya didalam Surat An-Naba’ Ayat 4, 5.

Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Selanjutnya, sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui.

Maksud dari ayat ini adalah, bahwa mereka akan segera mengetahui pada saat menjelang ajal, yang disebut sebagai saat Sakaratul Maut, dan di alam (periode) Barzah, yakni waktu antara saat kematian hingga tibanya Hari Pembalasan. Begitu juga, nanti mereka akan mengetahui sekali lagi pada saat berhadapan dengan Pengadilan Akhirat di Hari Pembalasan.
Adakalanya pula, Allah SWT memberikan jawaban yang sangat rinci agar kita memahami bahwa segala sesuatunya tidak ada yang sulit bagi Allah SWT untuk melaksanakan Hari Pembalasan. Marilah kita perhatikan firman-Nya dalam Surat An-Naba’ Ayat 6~16 berikut ini.

Bukankah telah Kami (Allah) ciptakan bumi sebagai hamparan yang terbentang luas, Dan gunung-gunung sebagai pancang-pancang yang kokoh. Dan Kami ciptakan kamu berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidurmu untuk beristirahat, dan Kami jadikan malam sebagai selimut, dan siang hari untuk penghidupanmu. Dan bukankah telah Kami ciptakan di atasmu tujuh langit yang kokoh, dan Kami letakkan padanya sinar yang terang-benderang. Dan bukankah telah Kami turunkan dari awan, air yang tercurah agar Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan. Dan kebun-kebun yang tumbuh begitu lebat?

Dengan demikian Allah SWT menegaskan bahwa, jika Dia dapat melakukan semua hal yang disebutkan-Nya itu, manalah mungkin Dia tidak sanggup mendatangkan Hari Pembalasan! Sebagai contoh, Allah SWT memberi kita nikmat berupa tidur yang dapat mengembalikan kesegaran kita secara menyeluruh. Walaupun adakalanya seseorang mencoba untuk menghindari tidur, pastilah akan tiba saatnya ia tertidur atas kemurahan Allah SWT. Setelah terbangun dari tidurnya yang alami itu ia akan menjadi lebih bugar dan bertenaga. Manalah mungkin, Allah SWT yang sanggup memberi hadiah tak ternilai yang sedemikian rupa kepada manusia, tidak sanggup menyelenggarakan Hari Pembalasan? Tentu sangat mungkin sekali! Sebenarnya, masing-masing hal yang disebutkan diatas perlu diberi ulasan serupa. Namun, demi ringkasnya, kita akan melanjutkan melihat beberapa penggambaran tentang Hari Pembalasan.

Nabi Muhammad SAW telah membawakan berita gembira kepada manusia dan peringatan perihal adanya siksa pada Hari Pembalasan, bagi mereka yang tidak mengikuti petunjuk Allah SWT. Umat Muslim percaya sepenuhnya akan adanya Hari Pembalasan walaupun mereka belum pernah melihatnya. Atas kasih-sayang Allah SWT, telah dijelaskan-Nya kepada kita berbagai penggambaran Hari Pembalasan agar kita dapat memahami dan memperoleh petunjuk. Terlebih dahulu marilah kita melihat penggambaran yang diberikan Allah SWT didalam Surat Ath-Thuur Ayat 17~20.

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa (muttaqin) berada didalam Surga dan kenikmatan, mereka bersuka-ria dengan apa yang telah dianugerahkan oleh Tuhan mereka, dan karena Tuhan mereka telah menyelamatkan mereka dari api neraka. (kepada mereka akan dikatakan), “Makan dan minumlah sepuas kalian, sebagai balasan atas amal kebajikan yang telah kamu kerjakan”. Mereka akan bersandar santai diatas tahta yang tersusun berderetan, dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari cantik bermata elok berbinar.

Hal Serupa difirmankan Allah SWT didalam Surat Al-Haqqah Ayat 19~24:

Adapun orang-orang yang diberi catatan perbuatan dari sebelah kanannya, maka mereka berkata kepada yang lain, “Ambillah, bacalah kitabku ini! Sesungguhnya aku dahulu selalu yakin bahwa kelak aku pasti akan menemui hisab terhadap diriku.” Maka orang itu akan berada dalam kehidupan yang penuh ridha, didalam surga yang tinggi, (dimana) buah-buahan begitu rendah dan dekat. (kepada mereka dikatakan) “Makan dan minumlah dengan senyaman-nyamannya disebabkan apa-apa yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu.”

Begitu pula didalam Surat Yaasin Ayat 55~58, Allah SWT berfirman,

Sesungguhnya, para penghuni Surga pada hari itu akan sibuk dengan segala hal yang nyaman dan menyenangkan. Mereka bersama pasangan-pasangan mereka bersantai dengan nyamannya bersandar di atas dipan-dipan. Di surga mereka memperoleh buah-buahan dan apa saja yang mereka minta. (Dan kepada mereka dikatakan) "Salam" sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.

Menurut ayat ini, ketika para penghuni Surga akan memperoleh semua ganjaran dari Allah SWT, merekapun ditanya oleh Allah SWT, “Wahai hamba-hambaku yang ta’at, adalagi-kah yang engkau inginkan?” Merekapun menjawab, “Duhai Allah! Puji syukur kami bagi-Mu, kami telah memiliki segalanya.” Allah SWT pun akan berkata kepada para penghuni Surga ini, “Akan Ku berikan kepada kamu sesuatu yang jauh lebih berharga dari semua ganjaran yang telah kamu terima.” Pada saat itu mereka akan tergetar gembira dan mendapatkan kehormatan berjumpa dengan Allah SWT dan Allah SWT menyapa mereka dengan Salam.

Begitu pula, Allah SWT menguraikan beberapa penggambaran Hari Pembalasan yang menerangkan kepada kita perihal siksa yang ditimpakan kepada para pelaku dosa-dosa. Misalnya, Firman Allah SWT dalam Surat Al-Mulk Ayat 6~10,

Dan bagi orang-orang yang kafir (menentang) kepada Tuhan mereka, akan memperoleh siksa Neraka Jahannam, itulah seburuk-buruk tempat kembali. Ketika mereka dilemparkan kedalam neraka, mereka mendengar suara mengerikan gemuruh menggelegak. Seolah neraka itu hampir pecah karena marah. Setiap kali sekelompok orang-orang kafir dilemparkan kedalam neraka, penjaga neraka bertanya kepada mereka, “Tidak-kah pernah datang kepada kalian seorang pemberi peringatan semasa hidup kalian di dunia? Mereka pun menjawab, “Benar, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, namun kami mendustakannya dan kami katakan kepadanya: "Allah tidak menurunkan sesuatupun, dan kamu hanyalah seseorang yang teramat sesat". Seandainya saja kami mau mendengarkan perkataannya dan menggunakan akal kami, tentulah kami tidak akan berada diantara para penghuni Neraka.”

Allah SWT juga berfiman didalam Surat Al-Haqqah Ayat 25~29,

Dan bagi yang diberikan catatan dari sebelah kirinya, berkatalah ia, “Duhai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui hisab terhadap diriku. Duhai sekiranya kematian itu adalah akhir dari segalanya. Hartaku telah tiada menguntungkanku sedikitpun, dan begitupun dengan kekuasaanku (yang membawaku kepada kehancuranku) telah sirna.”

Alasan diberlakukan siksa neraka juga dijelaskan Allah SWT didalam Surat Al-Mudatstsir Ayat 40~48,

Para penghuni surga akan bertanya-tanya, perihal mereka yang telah berdosa, “Apakah yang menyebabkanmu menghuni neraka?” Mereka yang berdosa akan menjawab, “Karena kami bukan termasuk mereka yang shalat, dan bukan pula dari mereka yang memberi makan orang miskin, kami dahulu terbiasa membicarakan kebathilan bersama-sama mereka yang suka membicarakannya, dan kami mengingkari adanya Hari Pembalasan sampai datang kepada kami kematian.” Maka pada hari itu tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari para pemberi syafa’at.

Penggambaran-penggambaran Surga dan Neraka di atas ditujukan sebagai peringatan yang amat penting. Kunci untuk masuk Surga tidak dapat kita peroleh hanya dengan jalan kita berbuat kebajikan. Hanya melalui Pertolongan dan Kasih Sayang Allah SWT kita mendapatkannya.

Saya berdoa kepada Allah SWT semoga kita diwafatkan sebagai Muslim dan dimasukkan-Nya kita kedalam golongan para Ahli Surga. Amiin.


Baca Selengkapnya!

Sunday, August 2, 2009

Nifsu Sya’aban

Assalamu’alaikum w.b.t…
Untuk makluman semua…. Hari Nisfu Sya’aban akan tiba pada hari Khamis
malam Jumaat (sebaik saja masuk maghrib), 7hb September, 2006 (selepas magrib pada hari 14 Sya’aban 1427H)
Oleh itu, marilah kita sama-sama mengambil saat keemasan ini untuk menutup catatan amal ibadah kita kpd Allah dengan baik dan sempurna dan
seterusnya berazam untuk memperbaiki diri kita untuk catatan yang baru.
Hari nisfu sya’aban adalah hari dimana buku catatan amalan kita selama
setahun diangkat ke langit dan diganti dengan buku catatan yang baru. Catatan pertama yang akan dicatatkan dibuku yang baru akan bermula sebaik sahaja masuk waktu maghrib, (15 Sya’aban bermula pada 14 hb sya’aban sebaik sahaja masuk maghrib)
Berikut adalah antara amal ibadah di hari Nisfu Sya’aban:


1. Selepas solat maghrib (15 Sya’aban, malam = 7 September 2006)
Solat sunat nisfu sya’aban, 2 rakaat
Rakaat 1 : baca Al-Fatihah & surah Al-Qadar 1x
Rakaat 2 : baca Al-Fatihah & surah Al-Ikhlas 3x
2. Membaca Yasin 3x selepas solat Maghribnya (15 Sya’aban, malam = 7 September 2006)
i) Selepas Yasin pertama : mohon dipanjangkan umur untuk beribadat kepada Allah
ii) Selepas Yasin kedua : mohon rezeki yang halal untuk beribadat kepada Allah
iii) Selepas Yasin ketiga : mohon ditetapkan iman dan Islam & mati di
dalam iman & pohonlah segala yang baik….
Kemudian baca Istighfar 11x & selawat 11x
Baca doa nisfu Sya’aban (ada didalam Yasin Majmuk)
3. Baca surah ikhlas 1000x
4. Berpuasa pada siangnya
Abul Khair Al Talaqaani r.a. mengira nama2 malam Nisfu Syaaban sebanyak
22.
Antaranya yg termasyhur adalah:
1. Malam Dimustajabkan Doa
2. Malam Pembahagian Takdir
3. Malam Rahmat
4. Malam Berkat
5. Malam Pengampunan (Taubat)
6. Malam Penebusan
7. Malam Syafaat
8. Malam Penulisan
9. Malam Keagungan dan Kemuliaan
10. Malam Rezeki
11. Malam Hari Raya Para Malaikat
12. Malam Penghidupan
Antara kelebihan bulan Sya’aban:
1. Sesiapa berpuasa sehari dalam bulan Sya’aban maka Allah haramkan
tubuhnya dari api neraka dan dia akan menjadi teman kpd nabi Allah Yusof didalam syurga.
2. Riwayat dari Osman Bin Abi Al-As, Sabda Nabi Muhammad (saw) : pada
malam nisfu sya’aban setelah berlalu 1/3 malamnya, Allah turun ke langit dunia lalu berfirman : adakah orang-orang yang meminta maka Aku perkenankan permintannya, adakah orang yang meminta ampun maka aku ampunkannya, adakah orang yang bertaubat maka aku terima taubatnya dan diampunkan semua orang mukmin lelaki & perempuan , melainkan orang yang berzina atau orang yang berdendam marah hatinya kepada saudaranya.
Sebaik-baiknya minta ampun dengan ibubapa sebelum hari nisfu sya’aban
kerana amalan kita akan terhalang dari diangkat ke langit sekiranya kita derhaka/berdosa dengan ibubapa kita.
Malam nisfu Syaaban juga dianggap hari raya Malaikat, begitu juga malam Lailatul Qadar mereka tidak tidur, dipenuhi dengan amal ibadat sepanjang malamnya. Dan bagi anak-anak Adam berhari raya pada siangnya dengan berpuasa dan ibadat, kerana mereka tidur pada malamnya.
Allah akan mengampunkan dosa pada malam nisfu Syaaban kecuali kepada enam orang (golongan):
Orang yang kekal minum arak
Orang yang derhaka kepada kedua ibu bapa
Orang yang kekal dalam zina
Orang yang banyak berkelahi
Orang yang melakukan perjualan dengan sumpah yang dusta
Orang yang memperlagakan orang lain supaya berkelahi
Wallahua’alam
JADI MARILAH KITA BERSAMA2 MEMERIAHKAN LAGI BULAN SYA’ABAN INI DENGAN AMAL IBADAT YANG LEBIH DAN JANGAN LUPA KAWAN2 SEMUA AMBILLAH KESEMPATAN UNTUK BERPUASA PADA 15 SYAABAN NANTI IAITU PADA JUMAAT 8 SEPTEMBER INI KERANA KITA TIDAK TAHU SAMADA BERKESEMPATAN LAGI UNTUK TAHUN HADAPAN…INSYALLAH


Baca Selengkapnya!

Allah-made Versus Man-made Way Of Life

By. Ihsan Tanjung

Ketika Rub’iy bin Amer radhiyallahu ’anhu bernegosiasi dengan Panglima Angkatan Bersenjata Persia bernama Rustum, beliau menyampaikan tiga pesan yang menjadi ucapan legendaris dalam sejarah Islam. Point ketiga dari pesan beliau berbunyi sebagai berikut:

إن الله ابتعثنا لنخرج العباد من جور الأديان إلى عدل الإسلام

”Sesungguhnya Allah mengutus kami (ummat Islam) untuk mengeluarkan hamba-hamba Allah (ummat manusia) dari kezaliman berbagai dien menuju keadilan Al-Islam.”

Kata dien seringkali diterjemahkan dengan istilah agama. Padahal dien merupakan suatu istilah yang bermakna jauh lebih luas daripada sekadar agama. Sebab agama pada galibnya diasosiasikan dengan agama Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha dan lain sebagainya yang semuanya hanya terbatas pada sistem religi atau sistem keyakinan. Sedangkan kata dien berarti sistem hidup atau way of life dimana sistem religi hanya merupakan salah satu bagian daripadanya. Contoh way of life ialah Komunisme, Kapitalisme, Liberalisme, Sosialisme, Nasionalisme, Demokrasi, Theokrasi dan tentu saja Islam termasuk di dalamnya.


Perbedaannya ialah bahwa berbagai dien selain Al-Islam merupakan dien buatan manusia atau man-made way of lives. Sementara Islam merupakan satu-satunya dien ciptaan Allah sehingga ia disebut Dienullah (Allah-made way of life). Seluruh dien buatan manusia atau man-made way of lives pasti mengandung ketidaksempurnaan. Sebab ia dibuat oleh manusia yang tidak luput dari khilaf dan kesalahan. Sedangkan Islam merupakan dien yang sempurna karena diciptakan oleh Allah Yang Maha Sempurna. Segenap dien buatan manusia sedikit banyak pasti mengandung kezaliman, sedangkan dienullah Al-Islam merupakan satu-satunya dien yang akan mengantarkan manusia ke dalam hidup penuh keadilan.

Mengapa segenap dien selain Islam pasti melahirkan kezaliman? Karena segenap dien tersebut dibuat oleh manusia yang Allah sendiri gambarkan sebagai makhluk yang zalim lagi bodoh. Manusia dikatakan zalim dan bodoh karena bersedia menerima amanah berat yang sebelumnya telah ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung-gunung namun mereka semua enggan memikul amanah berat tersebut. Lalu manusia menerimanya. Maka Allah sebut manusia sebagai makhluk yang zalim lagi bodoh.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ
أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

”Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzab ayat 72)

Allah menyebut manusia zalim dan amat bodoh karena saat manusia menerima amanah tersebut ia seolah mengabaikan rasa ”khawatir akan mengkhianatinya”. Padahal makhluk-makhluk besar lainnya yang ukurannya jauh lebih besar daripada manusia menolak memikulnya karena khawatir akan mengkhianatinya. Manusia terlalu percaya diri bahwa ia akan berlaku jujur dan amanah dalam memikulnya. Dan pada kenyataannya memang ternyata kebanyakan manusia di dalam memikul amanah yang Allah berikan kepadanya berlaku khianat.

Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu,” Yang dimaksud dengan amanat ialah ketaatan.” Allah menawarkan ketaatan kepada langit, bumi dan gunung-gunung sebelum Dia menawarkannya kepada Adam. Namun ketiganya tidak sanggup. Lalu Allah berfirman kepada Adam, ”Sesungguhnya aku telah menwarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Semuanya tidak sanggup. Apakah kamu sanggup memegang teguh perkara yang ada di balik amanat tersebut?” Adam berkata, ”Ya Rabbku, apakah yang ada di baliknya?” Allah berfirman, ”Jika kamu berbuat baik maka mendapat imbalan dan jika berbuat buruk maka mendapat hukuman.” Kemudian Adam mengambilnya, lalu memikulnya. Maka Adam lalu terpedaya oleh perintah-perintah Allah. Sehingga belum berlalu waktu yang terlalu panjang Adam sudah mengkhianati amanat tersebut dengan melakukan dosa kemaksiatan atau kedurhakaan kepada Allah Sang Pemberi amanat.

Ketaatan yang Allah kehendaki dari manusia bukanlah ketaatan dalam urusan kehidupan pribadi semata. Namun ketaatan itu harus mencakup ketaatan dalam mengelola urusan kehidupan bermasyarakat dan bernegara dengan mengikuti sistem hidup buatan Allah (Dienullah). Bila manusia menata kehidupan pribadi dan sosialnya berdasarkan Allah-made way of life (Dienullah), maka mereka semua akan memperoleh imbalan yang baik dari Allah di dunia maupun di akhirat kelak nanti. Dan itu sekaligus mencerminkan terwujudnya masyarakat yang bersikap jujur dan amanah dalam memikul amanat yang datang dari Allah.

Namun dalam kenyataannya banyak masyarakat yang dalam menata kehidupan pribadi serta sosialnya lebih memilih untuk menjadikan man-made way of lives (dien buatan manusia) sebagai sistem hidupnya. Dengan demikian mereka bakal memperoleh hukuman Allah di dunia serta di akhirat, cepat ataupun lambat. Dan ini sekaligus mencerminkan terwujudnya masyarakat yang bersikap zalim lagi amat bodoh dalam memikul amanat yang telah diterimanya dari Allah. Masyarakat yang lebih suka menjadikan man-made way of lives (dien buatan manusia) sebagai sistem hidupnya dan dengan sengaja meninggalkan Allah-made way of life (dienullah), maka kezaliman akan tumbuh dengan subur di dalamnya. Dan masyarakat seperti itu layak disebut sebagai masyarakat Jahiliyah (masyarakat yang penuh kebodohan). Kebodohan yang dimaksud adalah al-jahlu ’anil-haq (kebodohan akan hakikat kebenaran).

Semenjak dibubarkannya sistem Islam yang disebut Khilafah Islamiyyah pada tahun 1924, maka dunia belum menyaksikan wujudnya masyarakat yang menjadikan dienullah semata sebagai sistem hidupnya. Segenap masyarakat dunia dewasa ini menata kehidupan bermasyarakat dan bernegaranya berdasarkan aneka sistem hidup buatan manusia. Tidak satupun yang menjadikan dienullah sebagai sistem hidupnya. Termasuk negeri-negeri yang mengaku dirinya sebagai negara Islam, maka pada hakikatnya mereka belum menjalankan sistem hidup dienullah. Sebab mereka masih ter-shibghoh (diwarnai) oleh faham qaumiyyah (Nasionalisme). Nasionalisme menganut sistem dimana sebuah negara dibangun berdasarkan kesamaan bangsa sebagai pengikat utama anggota masyarakatnya. Adapun sistem Islam menampung dan mengayomi segenap manusia dari aneka warna kulit, ras, suku dan bangsa. Berbagai negara yang ada dewasa ini sangat membatasi populasinya berdasarkan konsep kebangsaan. Ikatan utama dalam sebuah masyarakat dan negara Islam ialah aqidah Laa ilaaha illa Allah wa Muhammadur Rasulullah. Apapun warna kulit, suku maupun bangsa seseorang selagi ia ber-syahadatain, maka ia memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga sistem dienullah tersebut.

Sudah tiba masanya bagi ummat Islam untuk meninggalkan segenap dien buatan manusia dan menegakkan sistem hidup berlandaskan dienullah. Namun ada prasyarat fundamental yang perlu dipenuhi terlebih dahulu. Haruslah wujud sekumpulan ummat yang memiliki aqidah Islamiyyah secara kokoh dan meyakini sepenuhnya bahwa urusan sistem hidup merupakan urusan yang sangat penting. Bila ummat Islam masih menaruh harapan pada berbagai man-made way of lives, maka sistem Islam tidak akan pernah kunjung tegak. Hanya dan hanya jika ummat Islam telah benar-benar meyakini bahwa Islam-lah satu-satunya way of life yang pasti menghantarkan terwujudnya masyarakat penuh keadilan, maka sistem Islam akan tegak.

Alangkah ironis-nya bila setiap wirid pagi dan petang seorang muslim membaca:

رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد نبا و رسولا

“Aku ridha Allah sebagai Rabb, dan Islam sebagai dien (sistem hidup) dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.”

Ia membacanya setiap pagi dan petang, namun dalam realitanya ia menunjukkan sikap ridha terhadap berlakunya sistem hidup buatan manusia sebagai way of life. Ia tidak memiliki kegelisahan dan kecemburuan terhadap kenyataan bahwa manusia di sekitarnya masih rela hidup dengan dien-dien selain dienullah. Padahal inilah makna ucapan legendaris Rub’iy bin Amer:
إن الله ابتعثنا لنخرج العباد من جور الأديان إلى عدل الإسلام
”Sesungguhnya Allah mengutus kami (ummat Islam) untuk mengeluarkan hamba-hamba Allah (ummat manusia) dari kezaliman berbagai dien menuju keadilan Al-Islam.”



Baca Selengkapnya!

Saturday, August 1, 2009

Rasulullah SAW. Dan Pengemis Yahudi Buta

Assalamualaikum Wr Wb



Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta, hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya" .



Setiap pagi Rasulullah s.a.w. mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah s.a.w. menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah s.a.w melakukannya hingga menjelang Nabi Muhammad s.a.w. wafat.



Setelah kewafatan Rasulullah s.a.w. tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah itu?", tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah s.a.w. selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.


Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu ?". Abubakar r.a menjawab, "Aku orang yang biasa".



"Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku" , jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.


Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah s.a.w.



Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.





Semoga dapat menjadi contoh teladan bagi kita semua



Sumber dari Kisah kisah Teladan

Baca Selengkapnya!

Friday, July 31, 2009

Bagaimana Cara Memilih Pemimpin Dalam Islam

Cara Sahabat Umar Memilih Khalifah Penggantinya.
Yang pasti bukan dengan demokrasi (demos= rakyat, kratos=kekuasaan). Karena prinsip demokrasi tidaklah sesuai dengan prinsip Islam, dalam Islam tidak mengenal istilah "vox populi vox dei", suara rakyat adalah suara Tuhan.
Berkenaan dengan tata cara pemilihan kepala pemerintahan, berikut ini adalah kisah bagaimana sahabat Umar ketika mengakhiri jabatannya melakukan pemilihan khalifah pengganti dirinya.

Ketika khalifah Umar sedang kritis setelah ditikam oleh Abu Lu’lu, seorang Majusi, budak dari Mughirah bin Syu’bah, ketika sedang memimpin sholat Subuh, maka beliau ditanya oleh sebagian orang Sahabat.

Mereka berkata: Berwasiatlah, wahai Amirul Mukminin, carilah pengganti.

Ia menjawab: Saya tidak mendapatkan orang yang lebih berhak dengan urusan ini daripada sekumpulan orang yang ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam meninggal dunia beliau meridhai mereka. Kemudian Umar menyebut nama Ali, Utsman, Zubair, Thalhah, Sa’d, dan Abdurrahman. [HR Bukhari]

Beliau kemudian menunjuk Ibnu Umar sebagai saksi dan tidak diperbolehkan melakukan campur tangan dalam urusan ini (yakni ikut sebagai calon pengganti Umar, Subhanallah, demikian wara’nya Umar sehingga melarang anaknya sendiri untuk ikut dalam pemilihan kekhalifahan).


Keenam sahabat tersebut, adalah para pembesar sahabat, dan mereka adalah orang-orang yang ’alim terhadap ilmu agama dan pemerintahan. Belakangan inilah yang kemudian dikenal dengan majelis Syura, yakni majelis yang beranggotakan para ahli ilmu untuk masalah pemerintahan.

Bagaimana jalannya pemilihan khalifah selanjutnya?

Masih dalam hadits riwayat Imam Bukhari dalam bab keutamaan sahabat Utsman, diceritakan proses pemilihan tersebut.

Ketika selesai dikuburkan, berkumpullah sekawanan orang tersebut.

Abdurrahman berkata,”Jadikanlah urusan (pilihanmu)kepada tiga orang dari kamu.”
Zubair menjawab,”Aku menjadikan pilihanku kepada Ali.”
Thalhah berkata,”Sungguh aku menjadikan pilihanku kepada Utsman.”
Sa’d berkata:”Aku menjadikan pilihanku kepada Abdurrahman bin Auf.”

Kemudian Abdurrahman berkata:”Siapapun (dari) kamu yang terlepas dari urusan pilihan ini, maka kami akan menjadikan urusan kepemimpinan kepadanya, semoga Allah dan Islam akan mengawasinya.

Lalu terdiamlah kedua orang tua itu (pent. Ali dan Utsman).

Abdurrahman berkata,”Apakah kalian hendak menjadikan urusan kepemimpinan kepadaku? Semoga Allah mengawasiku agar aku tidak lengah memilih kalian yang paling utama.”

Mereka berdua menjawab,”Ya.”

Kemudian ia (Abdurrahman) memegang tangan salah satunya, lalu berkata,”Engkau mempunyai ikatan keluarga dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan lebih dahulunya pengetahuanmu dalam (masalah) Islam, semoga Allah mengawasimu. Bila aku menjadikanmu seorang amir tentu kamu akan berlaku adil dan bila aku menjadikan Utsman sebagai amir, tentu kamu akan mendengarkan dan mentaatinya.”

Kemudian ia menyendiri bersama yang lainnya, lalu berkata (seperti yang telah disebutkan). Dan ketika ia mengambil sumpah (janji), maka ia berkata,” Angkatlah tanganmu wahai Utsman.” Lalu ia membai’atnya, lalu Ali dan penduduk kampung masuk lalu membai’atnya.

[HR Bukhari]

* * * * *
Jadi ketika Umar radhiyallahu anhu memilih enam orang sahabat untuk menentukan siapa pengganti dirinya, maka keenam orang ini kemudian berkumpul untuk menentukan siapa diantara mereka yang akan menjadi pengganti Umar.

Abdurrahman kemudian mengajukan usul agar 3 (tiga) orang dari 6 (enam) orang ini mundur dari kandidat. Ini adalah siyasah syar’iyah, dimana dengan mundurnya 3 orang akan memperkecil potensi friksi yang akan terjadi diantara mereka. Maka mundurlah Zubair, Thalhah dan Sa’d bin Abi Waqqash, masing-masing memberikan dukungan kepada Ali, Utsman dan Abdurrahman dengan satu suara.

Kemudian Abdurrahman berkata kepada Ali dan Utsman, siapa diantara mereka yang mau mengindurkan diri dari pencalonan. Ternyata keduanya diam saja. Abdurrahman kemudian bertanya apakah mereka berdua mewakilkan dirinya untuk melakukan pemilihan? Maka sepakat keduanya memberikan kewenangan kepada Abdurrahman bin Auf untuk memilih antara Ali dan Utsman (karena dengan demikian Abdurrahman sekaligus mengundurkan diri dari pemilihan).

Baru kemudian pilihan dijatuhkan kepada Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga dalam sejarah Islam.

Demikianlah prosesi pemilihan khalifah ketiga yang dilakukan oleh Umar dengan memilih enam orang pembesar sahabat untuk menentukan siapa pengganti dirinya.

Kita juga mengenal cara pemilihan langsung oleh khalifah yang diganti dengan menunjuk langsung penggantinya, sebagaimana dilakukan oleh sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq kepada Umar bin Khattab radiyallahu anhuma.

Dan patut dicatat, bahwa sistem pemerintahan dalam kekhalifahan ini berlangsung sesuai dengan umur dari sang khalifah yang artinya tidak diganti melainkan jika si pemimpin ini sudah menemui batas usianya/wafat.

Mudah-mudahan ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita akan bagaimana pelaksanaan mencari pemimpin ummat sepeninggal Nabi dan para Sahabatnya ridwanullah alaihim ajma’in.

Wallahu a’lam



Baca Selengkapnya!

Thursday, July 30, 2009

Bila Amar Ma'ruf Nahi Munkar Diabaikan

Assalamualaikum Wr Wb



Bissmillahirrohmaan irrohiim



Allah SWT mensifati umat Islam dalam Al-Qur'an sebagai umat yang terbaik karena menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. (Al-Imran [3] ayat 110) yang artinya :


"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.



Kebaikan Umat Islam ini diperkuat oleh Rasulullah saw.dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi bahwa Rasulullah saw. bersabda tentang ayat 110 surat Ali Imran:



"Kamu melengkapi tujuh puluh umat, kamulah yang paling baik dan paling mulia di sisi Allah."


Kalau kita perhatikan susunan ayat di atas kita dapatkan bahwa penyebutan amar ma'ruf dan nahy munkar (menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar) didahulukan dari pada penyebutan iman kepada Allah, padahal iman kepada Allah merupakan derajat tertinggi dan lebih dahulu keberadaannya, bahkan amar ma'ruf dan nahy munkar merupakan konsekwensi iman kepada Allah.



Ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya amar ma'ruf dan nahy munkar, dan umat yang melakukannya adalah umat yang terbaik, karena umat itu telah mencurahkan segala potensi dan kemampuannya untuk mewujudkan kebaikan dan mencegah timbulnya kejahatan bagi umat manusia.



Karena pentingnya amar ma'ruf dan nahy munkar, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk melakukannya. Firman Allah SWT dalam surat (Al-Imran [3] ayat 104) yang artinya :



"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."


Sebagai perintah Allah, sudah barang tentu jika dilaksanakan akan menyebabkan lahirnya berbagai macam kebaikan baik di dunia maupun di akhirat, sebaliknya jika perintah ditinggalkan dan diabaikan akan menyebabkan timbulnya keburukan baik di dunia maupun di akhirat.


Dalam tulisan ini akan diuraikan secara singkat akibat-akibat yang akan timbul jika amar ma'ruf dan nahy munkar ditinggalkan dan diabaikan, agar dalam diri kita timbul rasa takut kalau kita mengabaikan dan menyia-nyiakannya, yang pada akhirnya kita terdorong untuk melakukannya.


Pengertian Amar Ma'ruf Dan Nahy Munkar


Untuk menghindari perbedaan penafsiran tentang amar ma'ruf dan nahy munkar, terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian amar ma'ruf dan nahy munkar.


1. Pengertian amar ma'ruf


Dr. Sayyid Muhammad Nuh menjelaskan dalam bukunya Taujihat Nabawiyyah ' Ala al-Thariq bahwa al-ma'ruf adalah nama yang mencakup semua yang dicintai dan diridhai Allah, baik perkataan, maupun perbuatan lahir dan batin.



Jadi al-ma'ruf mencakup keyakinan, yaitu iman kepada Allah, malaikat Nya, kitab Nya, Rasul Nya, hari akhir dan qadar (takdir).



Juga mencakup ibadah, yaitu shalat, zakat, shaum, haji, jihad, nikah dan thalaq, menyusui anak, pemeliharaan anak, nafkah, iddah dan semacamnya.


Mencakup juga hukum danperundang- undangan seperti mu'amalah maliyyah (transaksi harta), hudud (hukuman-hukuman) , qishash, transaksi-transaksi , perjanjian-perjanji an dan semacamnya. Mencakup juga akhlaq, seperti shidiq (jujur), 'adil, amanah, 'iffah (menjaga diri dari yang haram), setia janji dan semacamnya.

Semuanya itu dikatakan ma'ruf ( yang menurut bahasa berarti dikenal) karena fitrah yang bersih dan akal yang sehat mengenalnya dan menyaksikan kebaikannya.

Jadi pengertian amar ma'ruf ( menyuruh kepada yang ma'ruf ) adalah mengajak dan memberikan dorongan kepada orang untuk melaksanakannya, menyiapkan sebab-sebab dan sarana-sarananya dalam bentuk mengokohkan pilar-pilarnya serta menjadikannya sebagai ciri umum bagi seluruh kehidupan.


2. Pengertian nahy munkar


Al-Munkar (kemungkaran) adalah nama yang mencakup semua yang dibenci dan tidak diridhai Allah, baik perkataan maupun perbuatan lahir dan batin.

Jadi munkar (kemungkaran) mencakup :

* kemusyrikan dengan segala bentuknya,
* mencakup segala penyakit hati seperti riya', hiqd (dengki), hasad (iri),
* permusuhan,
* kebencian dan semacamnya.
* Mencakup juga penyia-nyiaan ibadah seperti shalat, zakat, shaum, haji dan semacamnya.
* Mencakup juga perbuatan-perbuatan keji seperti
1. zina,
2. mencuri,
3. minum khamar (minuman keras),
4. menuduh berzina,
5. merampok,
6. berbuat aniaya dan semacamnya.

· Juga mencakup dusta,

· zalim,

· khiyanat,

· perbuatan hina,

· pengecut dansemacamnya.



Kemungkaran dikatakan munkar karena fitrah yang bersih dan akal yang sehat mengingkari dan menyaksikan kejahatan, kerusakan dan bahaya yang ditimbulkannya.

Jadi pengertian nahy munkar (mencegah dari yang munkar) adalah memperingatkan, menjauhkan dan menghalangi orang dari melakukannya, memutuskan sebab-sebab dan sarana-sarananya dalam bentuk membasminya sampai ke akar-akarnya serta membersihkan kehidupan dari segala bentuk kemungkaran.

Akibat Mengabaikan Perintah Amar Ma'ruf Dan Nahy Munkar


Sebagaimana diungkapkan dalam pendahuluan karena pentingnya amar
ma'ruf dan nahy munkar, Allah memerintahkan umat Islam untuk melakukan amar ma'ruf dan nahy munkar. Ketika kewajiban itu diabaikan dan tidak dilaksanakan, maka pasti orang-orang yang mengabaikan dan tidak melaksanakannya akan mendapat dosa. Tidak ada satu umatpun yang mengabaikan perintah amar ma'ruf dan nahy munkar kecuali Allah menimpakan berbagai hukuman kepada umat itu.

Berikut ini akan disebutkan sebagiannya sebagaimana disebutkan oleh Dr.Muhammad Abdul Qadir Abu Faris dalam bukunya Al-Amru Bil-Ma'ruf Wan-Nahyu'Anil- Munkar dan Dr. Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya Taujihat Nabawiyyah.

1. Azab yang menyeluruh


Apabila kemaksiatan telah merajalela di tengah-tengah masyarakat , sedangkan orang-orang yang shalih tidak berusaaha mengingkari dan membendung kerusakan tersebut, maka Allah SWT akan menimpakan azab kepada mereka secara menyeluruh baik orang-orang yang jahat maupun orang-orang yang shalih. Firman Allah:



“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang
zalim saja di antara kamu.Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (QS.Al-Anfal [8] ayat 25).



Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dengan sanadnya dari Zainab binti Jahsy bahwa ia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa padahal di tengah-tengah kita ada orang-orang yang shalih?


Rasulullah saw. menjawab: "Ya, apabila kemaksitan telah merajalela."


Abu Bakar r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:

Sesungguhnya jika orang-orang melihat orang yang berbuat zalim lalu tidak mencegahnya, maka hampir saja menimpakan siksa secara menyeluruh kepada mereka.(HR. Tirmidzi).


2. Tidak dikabulkannya do'a orang-orang yang shalih


Apabila suatu masyarakat mengabaikan amar ma'ruf dan nahy munkar serta tidak mencegah orang yang berbuat zalim dari kezalimannya, maka Allah akan menimpakan siksa kepada mereka dengan tidak mengabulkan do'a mereka.


Sabda Rasulullah saw.:

Demi dzat yang diriku ada di tangan-Nya hendaknya kamu menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, atau Allah akan menimpakan siksa kepadamu kemudian kamu berdo'a kepada-Nya lalu tidak dikabulkan. ( HR. Tirmidzi).


3. Berhak mendapatkan laknat


Di antara hukuman orang yang mengabaikan amar ma'ruf dan nahy munkar adalah berhak mendapatkan laknat, yakni terusir dari rahmat Allah sebagaimana yang telah menimpa Bani Israil ketika mengabaikan amar ma'ruf dan nahy munkar.


Abu Daud meriwayatkan dalam kitab Sunannya dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas'ud ia berkata:


Rasulullah saw. bersabda: "Pertama kerusakan yang terjadi pada Bani Israil, yaitu seseorang jika bertemu kawannya sedang berbuat kejahatan ditegur: wahai fulan, bertaqwalah pada Allah dan tinggalkan perbuatan yang kamu lakukan, karena perbuatan itu tidak halal bagimu, kemudian pada esok harinya bertemu lagi sedang berbuat itu juga, tetapi ia tidak menegurnya, bahkan ia telah menjadi teman makan minum dan duduk-duduknya. Maka ketika demikian keadaan mereka, Allah menutup hati masing-masing, sebagaimana firman Allah:


"Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. sampai firman Allah (tapi kebanyakan mereka adlah orang-orang yang fasik). Kemudian Nabi bersabda: "Tidak, sekali-kali jangan seperti mereka. Demi Allah, kamu harus menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar dan mencegah orang yang berbuat zalim, kamu harus mengembalikannya ke jalan hak, dan kamu batasi di dalam hak itu. Atau kalau tidak, Allah akan menutup hatimu, kemudian melaknat kamu sebagaimana melaknat mereka."


4. Timbulnya perpecahan


Sudah merupakan aksiomatis bahwa kemungkaran yang paling berat dan dan paling keji dapat menjauhkan syari'at Allah dari realitas kehidupan dan ditinggalkannya hukum-hukum Nya dalam kehidupan manusia.



Apabila hal ini terjadi dan orang-orang diam, tidak mengingkari dan tidak mencegahnya, maka Allah akan menanamkan perpecahan dan permusuhan di kalangan mereka sehingga mereka saling melakukan pembunuhan dan menumpahkan darah. Inilah yang diperingatkan Rasulullah saw kepada umatnya dan beliau mohon perlindungan Allah agar umatnya tidak menemukan hal itu.


Ibnu Majah meriwayatkan dalam kitab Sunannya dengan sanadnya dari Abdullah bin Umar r.a. bahwa ia bekata: Rasulullah saw. datang kepada kami dengan mengatakan: Wahai golongan Muhajirin, Ada lima hal apabila kalian melakukannya , pasti kalian akan ditimpa berbagai macam azab, saya berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menemukannya. Tidaklah pemimpin-pemimpin kalian tidak berhukum dengan Al-Qur'an dan memilih hukum selain hukum Allah, kecuali Allah menanamkan perpecahan di antara kalian."


5. Pemusnahan mental


Sebagai kehormatan kepada Nabi Muhammad saw, Allah tidak memusnahkan umat beliau secara fisik sebagaimana yang telah menimpa umat-umat terdahulu seperti kaum Nabi Hud, Shalih, Nuh, Luth dan Syu'aib yang telah mendustakan para Nabi dan mendurhakai perintah Allah. Tetapi bisa saja Allah membinasakan umat Muhammad SAW secara mental.


Maksudnya umat ini tidak dimusnahkan fisiknya, tetap dalam keadaan hidup, sekalipun melakukan dosa dan maksiat yang menyebabkan kehancuran dan kebinasaan, namun walaupun jumlahnya banyak, kekayaannya melimpah ruah, di sisi Allah tidak ada nilainya sama sekali, musuh-musuhnya tidak merasa takut, serta kawan-kawannya tidak merasa hormat. Inilah yang diberitakan Rasulullah saw. ketika umat ini takut mengatakan yang hak dan tidak mencegah orang yang berbuat zalim dari kezalimannya.


Beliau bersabda: "Apabila kamu melihat umatku tidak mau mengatakan kepada orang yang berbuat zalim di antara mereka: "Kamulah orang yang berbuat zalim," maka mereka dibiarkan dalam kemaksiatan yang mereka lakukan dalam keadaan hina." (HR. Ahmad)


Penutup

Demikianlah di antara hukuman Allah akibat diabaikannya amar ma'ruf dan nahy munkar. Cukuplah lima hukuman yang disebutkan di atas menumbuhkan rasa
takut bagi seorang mukmin untuk tidak mengabaikan perintah amar ma'ruf dan nahy munkar, sekaligus mendorongnya untuk melakukan perintah tersebut.















Oleh: Asnin Syafiuddin

http://www.aldakwah .org/mutiara/ index.php? /archives/ 6-Bila-Amar- Maruf-Nahi- Munkar-Diabaikan .html


Baca Selengkapnya!